Prepare for the worst…

October 1, 2011 Leave a comment

Categories: Knowledge Sharing

Peluang Indonesia Ditengah Badai Krisis Utang Amerika dan Eropa

August 19, 2011 Leave a comment

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA
Email : m.vickry@gmail.com
Phone :+62 813 2804 3661
(Tulisan ini akan dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen Edisi September-Oktober 2011)

Drama Krisis Utang Amerika dan Eropa

Drama krisis utang Amerika Serikat (AS) yang menimbulkan kekhawatiran akan default seakan berakhir ketika 12 jam sebelum jatuh temponya tanggal 2 Agustus 2011, Presiden Barack Obama menandatangani sebuah legislasi, yaitu hasil kompromi Partai Demokrat dan Republik bahwa dalam sepuluh tahun ke depan pemerintah AS harus mampu mengurangi defisit anggaran sebesar US$ 2,4 triliun. Pemerintah AS juga mencapai kesepakatan dengan para kreditornya yaitu Rusia, Jepang, dan China, terkait utang sebesar US$ 14.3 trilyun (GDP US$ 14.6) yang sebagian diantaranya jatuh tempo pada 2 Agustus 2011. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AS tidak membayar utang yang jatuh tempo tersebut menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan utang baru lagi, yaitu sebesar US$ 2.1 trilun setelah mayoritas anggota senat AS menyetujui kenaikan pagu hutang Amerika.  Utang baru sebesar US$ 2.1 trilyun tersebut akan jatuh tempo dalam 10 tahun ke depan, dan akan dibayar menggunakan uang sebesar US$ 2.4 trilyun yang akan diperoleh dari penghematan anggaran belanja negara.

Spekulasi penyeleseian utang AS tersebut pada akhirnya menaikkan kepercayaan investor yang sebelumnya ragu dengan kemampuan ekonomi AS dalam membayar hutangnya. Optimisme semu pasar juga didukung oleh langkah the Fitch rating dan the Moodys yang mempertahankan rating utang AS pada level tertinggi, yaitu AAA walaupun The Fitch dan Moodys sendiri sesungguhnya prihatin dengan realisasi kinerja ekonomi AS pada semester I/2011, dimana realisasi pertumbuhan ekonomi amerika jauh dari harapan padahal pertumbuhan ekonomi sangat penting untuk menstabilkan rasio utang sebuah negara. Seperti diketahui, realisasi Gross Domestik Product (GDP) AS sama sekali tidak memberikan harapan pada investor, dimana  untuk semester I/2011 hanya naik 1,3% dalam basis tahunan, sementara pertumbuhan dalam kuartal pertama turun tajam menjadi 0,4%. Berikut digambarkan kondisi ekonomi AS sepanjang tahun 2010-2011.

Sumber: kontan 2011

Diluar data tersebut diatas, perlu diketahui bahwa saat ini rasio utang AS terhadap GDP telah mencapai  97,9%, The Fitch dan Moodys bahkan mengatakan bahwa tanpa perubahan fiskal yang signifikan rasio utang Amerika Serikat terhadap produk domestik bruto akan mencapai 100% pada akhir 2012 mendatang dan akan terus meningkat.

Spekulasi terkait utang Amerika akhirnya menjadi jelas ketika lembaga rating S&P untuk pertama kalinya dalam sejarah, menurunkan peringkat utang Amerika Serikat dari peringkat tertinggi AAA menjadi AA+. Berbeda halnya dengan rating yang dikeluarkan oleh The Fitch dan Moody’s  yang dianggap berbau politis, rating yang dikeluarkan oleh S&P dinilai pasar sebagai rating yang mencerminkan kondisi Amerika Serikat yang sesungguhnya saat ini.

Dramatis, karena sejak diperoleh pada 1941, Amerika Serikat selalu menggenggam predikat sebagai negara paling aman untuk berinvestasi. Penurunan peringkat oleh lembaga ternama S&P tersebut, secara teoritis menunjukkan bahwa memegang surat utang Amerika Serikat saat ini kurang prestisius dibandingkan negara pemegang predikat AAA lainnya, seperti Jerman, Francis dan Kanada.

Downgrade rating AS tersebut tentunya akan berimplikasi dalam jangka menengah dan panjang. Downgrade tersebut menunjukkan bahwa surat utang yang dikeluarkan oleh AS saat ini sudah tidak lagi tanpa resiko. Sehingga bagi pemegang surat utang AS, resiko yang muncul tersebut akan dikompensasikan dengan coupon interest yang lebih tinggi yang artinya akan meningkatkan beban utang pemerintah AS. Hal ini tentu memberatkan pemerintah AS mengingat saat ini AS juga ditekan untuk mengurangi anggaran belanja pemerintah. Pada akhirnya, kondisi tersebut memberi gambaran mengenai prospek perekonomian Amerika Serikat yang benar-benar berada di ujung tanduk.

Tidak hanya AS, karena pada akhir semester I/2011 benua Eropa kembali dihantam isu akan potensi gagal bayar atas obligasi yang diterbitkan oleh Italia dan Spanyol sehingga memicu kekhawatiran besar di sektor keuangan eropa. Kondisi tersebut pada akhirnya memaksa Bank Sentral Eropa untuk membeli obligasi pemerintah Italia dan Spanyol tersebut sebagai upaya untuk menenangkan kekhawatiran pasar tentang krisis utang di zona euro. Munculnya potensi gagal bayar utang negara Eropa tersebut sebagai akibat dari terus naiknya rasio utang terhadap GDP negara-negara besar di Eropa seperti terlihat pada tabel dibawah.

Seperti diketahui bahwa pada awal agustus 2011, Risiko investasi untuk lima tahun kedepan di wilayah Eropa melesat ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut terlihat dari naiknya Credit default swap (CDS) Italia, Jerman dan Francis yang menyundul level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir. Untuk diketahui bahwa, CDS selalu digunakan investor sebagai pertimbangan dalam berinvestasi di suatu negara dimana semakin tinggi level CDS suatu negara, maka resiko gagal bayar negara tersebut akan semakin tinggi.

Kabar terakhir mengenai kondisi perekonomian Eropa dipaparkan oleh Presiden bank Sentral Eropa, Jean Claude Trichet, Trichet mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Eropa untuk beberapa waktu kedepan akan melambat sehingga diperlukan langkah-langkah likuiditas tambahan guna mendorong pertumbuhan ekonomi Eropa. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa untuk masa mendatang tidak akan ada perubahan suku bunga oleh bank sentral eropa.

Pengaruh krisis utang Amerika dan Eropa ke Indonesia

Tentunya krisis utang yang dialami Amerika dan Eropa dalam jangka pendek akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia baik itu ke sektor moneter maupun sektor riil. Pada sektor moneter dapat terlihat dari derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar saham dalam minggu pertama bulan agustus 2011 atau sejak isu utang Amerika merebak. Investor asing melihat bahwa dampak dari krisis utang Amerika dan Eropa akan membuat outlook perekonomian global turun. Keluarnya arus modal asing selama 6 hari berturut-turut pada akhirnya mendorong kejatuhan bursa saham Indonesia (IHSG) sebesar 10,6%. Perlu diketahui bahwa hingga akhir semester I/2011, investor asing menguasai 60% kapitalisasi modal di bursa saham Indonesia. Tidak hanya IHSG, karena rupiah pun tercatat melemah sebesar 150 Pips atau sebesar 1,74% dan ditutup pada level 8625.

 Namun demikian, volatilitas bursa saham dan mata uang tersebut dipercaya tidak akan berlangsung lama. Karena modal asing yang keluar tersebut hanya mencerminkan aksi profit taking investor asing, setelah sejak awal 2011 berduyun-duyun masuk ke bursa saham Indonesia. Bahkan dipercaya dalam beberapa bulan kedepan dana investor asing tersebut akan kembali masuk ke pasar saham Indonesia, mengingat kinerja emiten yang listing di bursa saham indonesia sangat memuaskan dimana pada periode semester I/2011 para emiten di bursa saham Indonesia rata-rata mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 20%.

Pada sektor rill, pengaruh krisis utang Amerika dan Eropa akan terlihat pada nilai ekspor Indonesia ke negara Eropa dan Amerika. Seperti diketahui bahwa sejauh ini, ekspor Indonesia ke Eropa sekitar 13% dari total ekspor Indonesia. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sekitar 11%. Sedangkan Ekspor Indonesia ke sesama negara Asia lebih dari 50%, sisanya ke Amerika latin dan Afrika. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini, Amerika Serikat masih merupakan salah satu negara andalan bagi ekspor Indonesia, selain Tiongkok dan Jepang.

Terkait krisis utang Amerika dan Eropa ini, ada kekhawatiran bahwa budget Amerika dan negara Eropa tersebut akan lebih banyak dihabiskan untuk membayar utang dan tidak digunakan untuk menstimulasi ekonomi domestik sehingga menimbulkan potensi penurunan impor barang dari negara-negara Asia termasuk Indonesia. Oleh karena itu para eksportir Indonesia dipercaya akan terkena imbas dari krisis berupa penurunan permintaan dari pasar Amerika dan Eropa tersebut. Namun demikian penurunan permintaan dari pasar Eropa dan Amerika dapat disiasati dengan menambah porsi ekspor ke negara berkembang, mengingat negara berkembang terbukti menunjukkan kinerja yang baik selama masa krisis.

Disamping akan adanya penurunan permintaan, pengaruh krisis AS dan Eropa tentunya akan terlihat pada harga barang komoditi, seperti minyak, CPO, dan batubara. Harga komoditas dunia dipercaya akan turun seiring dengan menurunnya outlook ekonomi global sehingga dalam hal ini dari segi nilai maka penjualan barang komoditas Indonesia akan turun. Hanya saja penurunan harga komoditas dunia tersebut dipercaya tidak akan mencapai level seperti ditahun 2008 lalu, mengingat sejauh ini permintaan akan barang komoditas dari negara-negara berkembang yang terhindar dari krisis justru meningkat, seiring dengan terus tumbuhnya ekonomi negara-negara berkembang tersebut.

Krisis Utang Amerika dan Eropa mendorong Capital Inflow ke Indonesia

Namun demikian krisis utang yang dialami Amerika dan Eropa dalam jangka menengah dan panjang justru memberikan peluang bagi Indonesia. Apa yang terjadi di AS dan Eropa tentunya akan membuat suku bunga mereka tetap rendah dalam satu atau dua tahun mendatang, kondisi tersebut menciptakan dana menganggur di pasar internasional yang tidak terserap oleh sektor riil di negara ber suku bunga rendah tersebut. Oleh karena itu, dana tersebut sangat berpotensi untuk dapat ditarik masuk ke negara berkembang. Pada kesempatan ini, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terbaik di dunia harus mampu memanfaatkan momentum krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.

 Realisasi Indikator Ekonomi Indonesia Sumber: Kompas (2011)

Potensi Indonesia untuk kebanjiran dana dari negara-negara maju yang mengalami pelambatan ekonomi sangatlah besar, mengingat dana tersebut akan mencari sumber tempat investasi baru dengan karakter memiliki suku bunga tinggi, mata uang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari AS dan Eropa. Dalam hal ini, ada dua negara yang memenuhi syarat tersebut yaitu Indonesia dan Brasil. Namun demikian, Brasil tidak menyukai hot money mengingat brazil menerapkan pajak 6% bagi investor yang mau membeli obligasi mereka. Alhasil dana bisa masuk ke Indonesia yang masih menganut rezim devisa bebas. Terlebih lagi Indonesia berpotensi untuk meningkatkan investasi dan angka pertumbuhan ekonominya, mengingat lembaga pemeringkat rating seperti The Fitch, Moody’s dan S&P dalam 6-12 bulan bersiap memberikan level peringkat investasi (investment grade) ke Indonesia.

PROGRES PENINGKATAN RATING INDONESIA Sumber: Bloomberg (2011)

Melihat potensi akan masuknya dana menganggur dari Amerika dan Eropa tersebut, Pemerintah harus mampu mendorong dana tersebut masuk ke sektor riil, tidak hanya ke sektor moneter seperti saham dan obligasi, karena dapat menciptakan resiko baru bagi Indonesia, terutama apabila dalam dua atau tiga tahun mendatang AS, Eropa dan Jepang mengalami fase pemulihan.

Pada akhirnya apabila Indonesia mampu memanfaatkan krisis hutang Amerika dan Eropa tersebut, maka optimesme pertumbuhan ekonomi 6,5% tahun 2011 dan 7% pada tahun 2012 adalah hal yang sangat obyektif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi identik dengan inflasi tinggi, namun demikian apabila pemerintah mampu mendorong capital inflow tersebut ke investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik dan dengan tidak adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) maka diprediksi capital inflow tersebut tidak akan menciptakan inflasi yang tinggi bagi Indonesia, dimana hingga akhir tahun 2011 potensi inflasi akan bertengger di angka wajar 5,5-6%. Oleh karena itu dengan stabilnya angka inflasi dan rendahnya suku bunga global hingga 2 tahun kedepan maka dipercaya BI akan tetap mempertahankan BI  rate 6,75% paling tidak sampai akhir tahun 2011.

Hanya saja pengaruh dari potensi diupgradenya rating Indonesia menjadi “Investment grade” sehingga mendorong derasnya capital inflow dimasa yang akan datang berpotensi untuk meningkatkan permintaan dalam jumlah besar terhadap rupiah sehingga diprediksi penguatan rupiah akan terus terjadi, rupiah paling tidak akan bertengger di Rp 8.300 pada akhir tahun 2011 dan Rp 7.900 pada 2012. Dalam hal ini para eksportir Indonesia akan terpukul apabila tidak mempersiapkan diri, untuk itu para eksportir Indonesia diharapkan mampu menyusun strategi pemasaran yang pas terkait dengan potensi penguatan rupiah tersebut. Seperti misalnya dengan mengganti mata uang perdagangan dengan mata uang stabil seperti yuan terutama untuk mengakomodasi perdagangan dengan China.

Categories: Published Articles

Mewaspadai Arus Balik Modal Asing Seiring Berakhirnya Quantitative Easing The Fed

August 19, 2011 Leave a comment

Oleh : Muhammad Fikri, STP, MBA
Email: m.vickry@gmail.com
Phone : +62 813 2804 3661
(Tulisan ini telah dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen Edisi Juli-Agustus 2011)

Pada tanggal 3 November 2010, the Federal Open Market Committee atau FOMC memutuskan untuk mengucurkan stimulus sebesar 600 Milliar USD atau setara dengan Rp 5,400 Triliun dengan tujuan untuk membiayai defisit anggaran AS. Kebijakan the Fed yang dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE) tersebut dilakukan melalui mekanisme pembelian surat berharga pemerintah atau lebih dikenal dengan US Treasury yang dimiliki oleh berbagai Institusi di Amerika. Dalam pelaksanaannya The Fed melakukan pembelian bertahap sebesar 75 Milliar USD perbulan hingga bulan Juni 2011. Federal Reserve Chairman Ben Bernanke mengatakan stimulus tambahan senilai 600 Milliar USD tersebut dibutuhkan karena tingkat inflasi masih terlalu rendah dan tingkat pengangguran terlalu tinggi di Amerika.

Kebijakan The Fed tersebut bukan yang pertama kalinya dilakukan, mengingat sebelumnya pada tanggal 18 Maret 2009 the Fed telah melakukan quantitative easing tahap pertama sebesar  1.7 trilliun USD, yang ditujukan untuk membeli mortgage-backed securities default  dalam rangka upaya penyelamatan  sektor properti di Amerika sebagai akibat dari krisis Subprime Mortgage. Program QE tahap 1 dari the Fed tersebut berlangsung selama setahun hingga maret 2010.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa selama kurun waktu hampir 2 tahun tersebut, The Fed telah mencetak dan mengucurkan uang miliaran USD kepasar dan telah mendorong peningkatan terhadap harga instrumen-instrumen investasi seperti obligasi, emas, saham, serta komoditas diseluruh dunia. Namun demikian, memasuki pertengahan 2011 atau seiring dengan berakhirnya program Quantitative Easing, Investor mulai was-was terhadap dampak dari berakhirnya program stimulus the Fed tersebut. Kondisi tersebut mendorong Investor untuk menyesuaikan portofolio investasinya dari instrumen jangka panjang ke instrumen jangka pendek guna mengantisipasi dampak berkurangnya sumber likuiditas dipasar. Kekhawatiran tersebut terlihat dari terus menurunnya bursa utama Amerika memasuki minggu pertama bulan Juni dimana investor mulai bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi apabila the Fed tidak lagi membeli surat hutang negara AS?”

Perlu diketahui bahwa perubahan dalam kebijakan bank sentral AS adalah peristiwa penting yang bisa membuat investor panik. Secara sederhana, aksi the Fed yang selama ini telah menyuntikkan sekitar 4 milyar USD setiap hari ke pasar AS sejak November 2010 tidak dipungkiri telah menjadi sumber likuiditas di pasar modal dan telah mendorong penguatan pasar modal tidak hanya di Amerika tapi juga dibelahan dunia lainnya.

 4 milyar USD atau hampir 35 trilyun rupiah perhari adalah jumlah uang yang sungguh besar. Oleh karena itu dengan berakhirnya program pelonggaran moneter dari bank sentral AS tersebut, pasar harus berusaha bertahan dengan likuiditas yang berkurang drastis. Dampak langsung dari program Quantitative Easing tersebut secara langsung dapat terlihat pada pergerakan Bursa utama AS dalam 3 tahun terakhir, seperti terlihat pada grafik dibawah ini.

Pergerakan bursa utama AS terhadap kebijakan program QE tahap 1 & 2

Dengan memperhatikan gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat suatu hubungan yang erat antara pergerakan bursa saham AS dengan kebijakan the fed baik QE1 maupun QE2. Dengan kata lain, jika program quantitative easing atau pencetakan uang benar-benar berakhir dalam waktu dekat, dimana likuiditas yang sebelumnya menjadi bahan bakar untuk penguatan bursa saham tiba-tiba lenyap maka dipercaya pasar saham utama AS akan mengalami tekanan hebat. Seperti dapat dilihat pada gambar diatas, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun lalu ketika memasuki masa akhir quantitative easing tahap pertama dimana selama bulan April hingga  bulan Agustus, The Fed telah membiarkan neracanya menyusut dari 1.207 trilliun USD ke 1.057 trilliun USDInilah sebuah kontraksi sebesar 12% pada waktu QE1 berakhir dan sebagai dampaknya pada periode tersebut bursa utama AS turun cukup signifikan.

Kondisi penurunan tersebut tidak hanya terjadi di bursa AS, mengingat pada umum nya bursa saham dibelahan dunia manapun tidak akan menyukai pengurangan atau pengetatan likuiditas. Kejatuhan pasar saham selama berhentinya program QE dari the Fed juga terjadi di Indonesia seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Pergerakan Indeks Dowjones dan IHSG Terhadap Kebijakan Program QE Tahap 1 & 2

Kejatuhan bursa saham Indonesia yang terjadi seiring jatuhnya bursa saham Amerika, tidak mengherankan pelaku pasar, mengingat 65% dari modal yang beredar di bursa saham Indonesia dikuasai oleh asing. Dan perlu diketahui bahwa Indonesia selama kurun waktu 2 tahun ini telah kelimpahan capital inflow dalam jumlah yang sangat besar walaupun tidak semuanya berasal dari Amerika serikat.

 Indonesia Tujuan “Capital Inflow”

Menurut IMF, dalam kurun waktu 1 tahun terakhir tercatat 800 miliar USD capital inflow telah masuk ke emerging market dimana kurang lebih 400 miliar USD dari dana tersebut masuk ke pasar Asia sedangkan 15 miliar USD masuk ke pasar financial Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia telah ketiban durian runtuh dari program stimulus yang dilakukan oleh negara-negara besar di dunia. bahkan Indonesia seakan mempunyai magnet yang sangat kuat untuk menarik dana asing tersebut masuk ke Indonesia. Tercatat hingga bulan juni 2011, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) telah meningkat 20% bila dibandingkan dengan posisi januari 2011. sementara posisi asing pada sertifikat bank Indonesia (SBI) per juni 2011 telah meningkat 13% dibanding posisi awal tahun 2011. Tidak hanya pasar SBI dan SUN karena pasar saham Indonesia juga kecipratan dana asing tersebut, dimana tercatat sejak awal 2011 hingga akhir juni 2011, net buy asing dipasar saham  telah mencapai Rp 16.7 Triliun.

 Potret Dana Asing Pada Instrumen Investasi di Indonesia

Instrumen

Desember 2010

Juni 2010

Capital Inflow

Surat Utang Negara (SUN)

Rp. 195,7 Triliun

Rp. 234,2 Triliun

Rp. 38,5 Triliun

Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Rp. 54,9 Triliun

Rp. 62 Triliun

Rp.7.1 Triliun

Net Buy Asing di Pasar Saham

-

-

Rp. 16.7 Triliun

Sumber: BI, BEI, Dirjen Pengelolaan Utang Indonesia

Mengenai derasnya capital inflow ke Indonesia, Reuters menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling banyak mendapat limpahan capital inflow akhir-akhir ini. dalam minggu pertama juni 2011 saja Indonesia telah kecipratan 61.5 juta USD, sedangkan kondisi sebaliknya terjadi di Filipina dan Thailand dimana kedua negara tersebut justru mengalami aliran dana keluar  masing-masing senilai 1 juta USD dan 20 juta USD.

Semakin meningkatnya kepemilikan asing pada instrumen investasi Indonesia tentunya meningkatkan resiko terjadinya sudden reversal, yang dapat menekan sektor moneter Indonesia. Bahkan the Fitch rating memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini dengan mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara paling berisiko ketiga di Asia akibat hot money. the Fitch melihat bahwa kebijakan QE dari the Fed telah menciptakan capital inflow yang masif ke Indonesia sebagai salah satu emerging market terbaik di Asia sehingga risiko terjadinya capital outflow pun akan semakin tinggi dan dapat terjadi kapan saja.

 Dampak Stimulus The Fed terhadap USD dan Emas

Tidak hanya mendorong penguatan bursa, Quantitative Easing juga telah menjadi penyebab terus melemahnya mata uang US dollar terhadap mata uang lainnya. Banyak analis yang mempercayai bahwa upaya AS sebagai eksportir terbesar dunia untuk terus memperlemah nilai mata uang USD nya bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk AS di pasar internasional sehingga mendorong penjualan perusahaan terutama para eksportir Amerika. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan kinerja perusahaan di Amerika dan menjadi potensi pembukaan lapangan kerja baru di AS.

Namun demikian, The Fed dipercaya tidak akan mendorong pelemahan US dollar secara terus menerus mengingat pelemahan US dollar secara terus menerus akan membuat nilai mata uang ini tidak berharga lagi dan penggunaannya sebagai mata uang untuk perdagangan internasional akan tergantikan. Dalam hal ini China dengan Yuan nya telah berancang-ancang untuk mengambil posisi USD sebagai mata uang dalam perdagangan internasional. Mata uang Yuan yang dipatok fixed, tentunya dapat menjadi kekuatan tersendiri disamping posisi China sebagai salah satu eksportir dan importir terbesar di dunia. Dengan kondisi tersebut negara counterpart perdagangan China tentunya akan menyukai penggunaan Yuan yang lebih stabil dibanding USD. Melihat kondisi ini, untuk sementara waktu tentunya The Fed akan berpikir ulang untuk meneruskan program Quantitative Easing setidaknya untuk beberapa bulan kedepan sambil melihat apakah QE 2 telah memberikan perubahan berarti bagi perekonomian AS.

Jika the Fed benar-benar menghentikan pencetakan uang untuk membiayai defisit anggaran pada bulan Juni, kemungkinan besar US dollar akan bangkit lagi.  Mengapa demikian?  Karena investor institusi yang memiliki dana pengelolaan besar akan mengatakan bahwa dolar AS kembali aman untuk dipegang menyusul pencetakan dollar tidak dilanjutkan. Semenjak program QE 1 dan 2 diumumkan sebagian besar investor telah menjual dolar AS untuk memakainya dalam carry trade, dan hampir semua pelaku pasar menyetujui tren USD saat itu adalah sangat bearish. Selama periode QE1 dan QE2, boleh dikatakan bahwa sentimen buruk terhadap US dollar agak ekstrem dimana tergambar dalam pergerakan nilainya seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Pergerakan Index USD dan Index Emas

Saat ini dapat dikatakan bahwa dolar AS sudah sangat oversold (investor melepas USD secara massive). Berarti setiap saat bisa terjadi sebuah pembalikan tren secara tidak terduga, terutama terhadap currencies yang telah mengalami penguatan yang signifikan terhadap dolar AS dan juga negara yang memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada the Fed Rate, seperti Aussie dollar, euro dan pound sterling.

Seperti kita telah bahas sebelumnya, perubahan dalam kebijakan the Fed yang akan mengurangi pelonggaran moneter kedepan dapat menopang dolar AS.  Dan rebound US dollar tersebut berpotensi menyebabkan pelemahan yang cukup signifikan di sektor komoditas diantaranya akan menekan harga emas. Seperti terlihat digambar diatas bahwa USD mempunyai hubungan berbanding terbalik dengan emas. Indikasi bahwa the Fed sementara waktu tidak akan melanjutkan program quantitaive easing, akan mendorong penguatan USD dimana investor akan cenderung melepas emas yang selama ini telah menguat tajam dan memilih USD yang dikenal dikalangan investor sebagai save heaven.

 AKANKAH QUANTITATIVE EASING TAHAP 3 DILAKUKAN

QE sebetulnya merupakan sebuah istilah yang keren untuk suatu tindakan yang sangat sederhana yaitu Mencetak Uang.  Menyusul berakhirnya quantitative easing tahap 2, bank sentral AS kemungkinan besar tidak akan langsung melanjutkannya dengan QE3.  Oleh karena itu bursa saham dan pasar emas dapat mengalami koreksi yang besar, sedangkan US dollar dan obligasi pemerintah AS tiba-tiba bisa menguat.

Mengenai kelanjutan Quantitative easing tahap 3, tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan the Fed akan mengisyaratkan stimulus tambahan. Namun perlu diketahui bahwa QE3 tidak akan diterapkan sampai bank sentral AS mempunyai dasar yang kuat untuk melakukannya. Berikut beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar oleh the Fed sebagai legitimasi untuk meneruskan quantitative easing tahap selanjutnya:

  • Seperti kita ketahui bahwa tujuan dari quantitative easing 1 dan 2 adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika dan mengurangi angka pengangguran. Namun demikian, masih memburuknya ekonomi Amerika dapat menjadi alasan yang kuat bagi the Fed untuk kembali melakukan stimulus ekonomi seperti terlihat pada kondisi makro dan mikro ekonomi AS dalam kurun waktu 2 tahun terakhir dibawah ini.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA (%) PERTUMBUHAN EKONOMI AMERIKA (%)

  •  Dari informasi diatas, maka dapat dikatakan bahwa angka pengangguran di Amerika sudah mulai menurun namun unemployment rate tersebut masih bergerak labil, dimana memasuki bulan juni 2011 angka tersebut kembali merangsek naik. Sedangkan dari sisi pertumbuhan ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pada triwulan 1 2011 ekonomi Amerika kembali mengalami fase perlambatan. The Fed sendiri merevisi negatif target pertumbuhan ekonomi AS untuk 2011 dari 3,1%-3,3% menjadi 2,7%-2,9%. Kondisi tersebut menjelaskan bahwa program quantitative easing yang telah dilakukan the Fed masih belum berhasil memicu ekonomi Amerika sehingga tidak akan mengherankan apabila The Fed kembali meneruskan program quantitative easing nya.
  • Seperti terlihat pada gambar dibawah ini, mengenai perkembangan defisit neraca perdagangan Amerika. maka dapat disimpulkan bahwa defisit neraca perdagangan Amerika untuk bulan Juni 2011 melorot 6,7% menjadi 43,7 miliar USD. Ini merupakan defisit yang terendah sejak Desember lalu (4 bulan terakhir).

DEFISIT NERACA PERDAGANGAN AMERIKA (Juta USD)

  • Sejumlah faktor mempengaruhi penurunan angka defisit tersebut. Di antaranya tingkat ekspor yang menembus rekor serta penurunan pembelian minyak. Namun demikian, dalam enam bulan pertama tahun fiskal 2011, defisit anggaran AS justru membengkak 15,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). kondisi tersebut akan mendorong pemerintah AS untuk menerbitkan surat hutang guna membiayai defisit anggarannya. Namun demikian melihat kondisi China dan Jepang (2 negara pemegang surat hutang terbesar AS) maka besar kemungkinan surat hutang yang diterbitkan AS tidak akan mampu diserap oleh kedua negara tersebut. Seperti kita ketahui untuk pertama kalinya dalam 7 athun terakhir China menderita defisit perdagangan dalam kuartal pertama 2011 sedangkan Jepang membutuhkan banyak dana untuk membangun kembali daerah yang terkena tsunami. Melihat kondisi tersebut maka besar kemungkinan The Fed kembali akan mencetak uang baru guna menyerap surat hutang AS tersebut.
  • Kekhawatiran terbesar dari dampak program QE yang dilakukan oleh Amerika adalah bahaya inflasi, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

TINGKAT INFLASI DI AMERIKA (%)

  •  Selama diluncurkannya QE2 awal november 2010 hingga saat ini, Inflasi di Amerika terus naik bahkan mencapai angka tertingginya pada bulan juni ini. kondisi tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan khusus bagi The Fed untuk sementara waktu tidak melanjutkan program QE tahap 3. Seperti pernah dikatakan oleh Federal Reserve Chairman Ben Bernanke bahwa stimulus akan dibutuhkan oleh Amerika selama tingkat inflasi masih rendah dan tingkat pengangguran masih tinggi. Dengan demikian, melihat angka inflasi mei 2011 maka The Fed dipercaya tidak akan melakukan QE paling tidak hingga inflasi di Amerika kembali turun.

Sekali lagi tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan the Fed akan mengeluarkan stimulus tambahan. Namun demikian sebagai investor yang bijak maka tidaklah salah apabila saat ini mengurangi portfolio di aset-aset beresiko sambil menunggu penerapan QE yang berikutnya. Mengapa demikian?  Karena seperti halnya dengan QE1 dan QE2, maka QE3 kembali akan menjadi motor untuk mendokrak harga berbagai aset investasi seperti saham, komoditas dan emas.

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA
Categories: Published Articles

Indonesia Motor Pertumbuhan Ekonomi Asia tahun 2011

June 16, 2011 2 comments

Indonesia Motor Pertumbuhan Ekonomi Asia tahun 2011
Oleh: Muhammad Fikri, STP, MBA
Email: m.vickry@gmail.com Phone: 081328043661
(Tulisan ini telah dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen Edisi Mei-Juni 2011)

Dengan dimulainya proses pemulihan ekonomi dunia setelah badai Krisis ekonomi global tahun 2008, Indonesia mulai menjadi salah satu negera yang mendapatkan perhatian khusus dari dunia internasional bahkan dipercaya menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi di Asia. Berbagai indikator ekonomi Indonesia baik itu sektor riil maupun sektor moneter terus menunjukkan pemulihan yang lebih cepat dibandingkan negara lainnya di dunia. Proses pemulihan ekonomi Indonesia terlihat dari pulihnya kondisi sektor moneter indonesia yang tercermin pada bursa saham Indonesia dan mata uang rupiah yang terus mengalami penguatan yang signifikan, dimana pada penutupan perdagangan di akhir kuarter pertama 2011, IHSG bercokol pada level 3678,67 setelah sempat menyentuh level tertingginya dalam sejarah di bulan januari 2011 pada level 3789,47 sedangkan rupiah ditutup pada level 8709 atau yang terkuat dalam 4 tahun terakhir.

Trend penguatan IHSG dan rupiah pada dasarnya telah terjadi sejak awal tahun 2010 dimana posisi IHSG hingga akhir kuarter I/2011 tercatat telah mengalami penguatan sebesar 45,15% sedangkan rupiah telah menguat 6,6% dibandingkan dengan posisi awal tahun 2010. Penguatan IHSG dan Rupiah ini didorong oleh derasnya dana asing yang masuk ke Indonesia sebagai cermin dari positifnya pandangan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut investor, indonesia merupakan salah satu emerging market dengan outlook ekonomi terbaik di dunia dan bila ditelisik ke belakang maka dapat disimpulkan bahwa hampir semua institusi keuangan internasional di dunia sepakat mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu tujuan investasi terbaik di dunia. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong derasnya dana asing yang masuk ke indonesia sejak awal tahun 2010.

Positifnya pandangan institusi keuangan dunia terhadap outlook Indonesia yang diyakini telah mendorong massif nya capital inflow ke Indonesia sejak awal tahun 2010 antara lain datang dari the Fitch ratings, Seperti diketahui pada Januari 2010 the Fitch Ratings meningkatkan rating Indonesia menjadi satu tingkat dibawah level layak investasi (investment grade), hal yang sama juga dilakukan oleh Standard & Poor’s pada Maret 2010 yang menaikkan rating utang Indonesia menjadi BB, bahkan pada awal april 2011 rating Indonesia kembali dinaikkan menjadi BB+ atau setingkat dibawah level investment grade. Seperti tidak ingin kalah, pada Juni 2010, Moody’s Investors Service juga menaikkan peringkat utang Indonesia dari outlook stabil menjadi positif dengan rating Ba2, dan pada februari 2011 rating Indonesia kembali dinaikkan menjadi Ba1 dengan outlook stabil.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada negara besar Eropa, sebagai dampak dari krisis hutang yunani, The fitch menurunkan rating hutang Spanyol menjadi AA+ dengan outlook stabil yang merupakan penurunan pertama sejak tahun 2003. Investor menghawatirkan hal serupa akan terjadi pada negara lainnya di Eropa, terutama terhadap kelompok yang dikenal dengan PIGS (Portugal, Italy, Greece and Spain). Perlu diketahui bahwa kelompok Negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang mirip, dimana rata-rata Negara tersebut memiliki rasio hutang terhadap PDB yang besar, serta terperangkap oleh defisit anggaran yang tinggi dalam membiayai sector publiknya.

 Sebagaimana dikhawatirkan, pada akhirnya di bulan Maret 2011, Standard & Poor`s memangkas peringkat utang Portugal satu tingkat lebih rendah ke BBB-, atau setingkat diatas level junk bond. Tidak hanya itu S&P juga memangkas rating Yunani dua tingkat menjadi BB-. Kondisi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap outlook ekonomi zona Eropa sehingga memaksa investor untuk mencari pasar baru untuk berinvestasi di luar zona Eropa yang masih diselimuti krisis, dan Indonesia menjadi salah satu pasar yang direkomendasikan oleh ketiga pemeringkat rating dunia tersebut.

 Setelah institusi pemeringkat rating internasional, selanjutnya giliran IMF yang memberikan penilaian positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setelah BPS mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 dilevel 6,1% atau 0,1% lebih tinggi dari prediksi IMF dibulan Juli 2010, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) kembali memuji ekonomi Indonesia. Lembaga multilateral ini bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh cepat pada tahun ini.

 Dalam laporannya, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia untuk tahun 2011. Lebih lanjut IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia akan dimotori oleh Indonesia bersama China dan India. IMF melihat bahwa besarnya pasar domestik ketiga Negara tersebut akan memicu pertumbuhan ekonomi Asia terutama ditengah menurunnya permintaan pasar Eropa dan Amerika terhadap produk-produk dari Asia. Bahkan secara khusus, IMF dalam laporannya meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2011 akan mampu tumbuh diatas 6%. Selain karena faktor besarnya pasar domestik, Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didorong oleh industri yang berbasis natural resources dengan karakter permintaan yang cenderung stabil. Hal tersebut tercermin dari besarnya sumbangan sektor non migas dan komoditas terhadap PDB Indonesia.

 Sedangkan disisi lain, pada April 2011, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika dan Jepang untuk tahun 2011. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebagai dampak dari akan berakhirnya program quantitative easing pemerintah AS, pada saat yang bersamaan IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan Jepang tahun 2011 sebagai akibat dari semakin meluasnya dampak gempa dan tsunami jepang yang terjadi pada bulan Maret 2011. Kondisi tersebut kembali mendorong investor global untuk mencari alternatif tempat investasi di luar Amerika dan jepang, dan terkait proyeksi tersebut IMF Sebagai salah satu institusi keuangan dunia menunjuk Indonesia sebagai salah satu alternatif investasi terbaik untuk tahun 2011

 Belum cukup hanya IMF, selanjutnya giliran World Economic Forum (WEF) yang memberikan pandangannya terhadap Indonesia. Berdasarkan laporan yang dirilis pada bulan Agustus 2010, WEF mencatatkan Indonesia sebagai Negara dengan kenaikan Indeks daya saing paling impresif di dunia. Dalam laporannya tersebut, indeks daya saing Indonesia tahun 2010 naik 10 tingkat ke posisi 44 dari 139 negara. Peningkatan tersebut didorong oleh semakin membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia serta meningkatnya indikator pendidikan Indonesia. Lebih lanjut, WEF menyebutkan bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan kondisi makro ekonominya tetap sehat selama masa krisis 2008. Indonesia berhasil menjaga defisit anggarannya tetap terkontrol, dimana diketahui hutang Indonesia tercatat sebesar 27% dari total GDP, Simpanan pemerintah meningkat 33% dari total GDP, serta mulai terkontrolnya laju inflasi year on year (Maret 2011 terhadap Maret 2010) sebesar 6,65%. Kondisi tersebut mencerminkan resiko hutang Indonesia yang relatif kecil.

 Rendahnya default risk serta masih tingginya coupon rate atas surat hutang yang diterbitkan Indonesia tersebut mendorong investor asing untuk berbondong-bondong membelinya. Lebih lanjut, WEF juga menyebutkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ke 18 dunia dengan total GDP sebesar USD 539,4 milliar. WEF percaya bahwa perekonomian Indonesia akan memberikan sumbangan postif dan berperan sangat penting dalam proses upaya pemulihan ekonomi dunia dimasa yang akan datang.

Setelah WEF, giliran UK Trade & Investment (UKTI) yang memberikan pandangannya terhadap Ekonomi Indonesia. Perlu diketahui bahwa UKTI merupakan acuan para investor di UK dan Eropa dalam menentukan pasar tempat berinvestasi. Dalam laporan yang bertajuk “Great expectations: Doing business in Emerging markets”yang dirilis pada awal september 2010, UKTI menyebutkan bahwa 523 perusahaan di Dunia telah memilih Indonesia sebagai Negara tujuan investasi ke empat di dunia setelah China, Vietnam dan India. Dalam laporannya, UKTI mengidentifikasi Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan GDP jangka panjang yang paling tinggi di dunia.

 5 Negara Dengan Prediksi Pertumbuhan GDP Tertinggi Tahun 2010-2030 (Miliar USD)

Negara

2010

2030

Pertumbuhan

India

4108

28415,20

592%

China

10019,88

58998,31

489%

Mesir

500,09

2928,01

486%

Indonesia

1027,51

5633,86

448%

Vietnam

276,19

1506,94

446

Source: Economist Intelligence Unit.

 Lebih lanjut, UKTI mengatakan bahwa Indonesia bersama kelompok negara yang tergabung dalam CIVETS (Colombia, Indonesia, Vietnam, Mesir, Turki and Afrika Selatan) pada tahun 2030 diprediksi akan menyamai 20% dari total GDP kelompok G7 sebagai cermin bahwa negara tersebut merupakan kelompok emerging market terbaik di dunia.

 Pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan dari beberapa institusi keuangan internasional seperti Standard n poor’s, The fitch rating, Moody’s service, IMF, WEF, serta UKTI terkait Indonesia telah mengarahkan investor global untuk memilih Indonesia sebagai tujuan investasi sehingga mendorong massive nya capital inflow.

 Diluar pandangan tersebut, sebagai salah satu emerging market yang telah menjadi perhatian dunia, Indonesia terus berusaha membuktikan bahwa ekonomi nya terus tumbuh dan seakan ingin membuktikan bahwa pandangan dari berbagai institusi keuangan dunia tersebut tidak salah. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya berbagai data indikator ekonomi yang dirilis pemerintah. Seperti diketahui pada bulan Februari 2011 BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh 6,1% pada tahun 2010, atau tumbuh diatas prediksi IMF 6%. Setelah itu positifnya laporan keuangan para emiten di bursa saham Indonesia untuk kinerja tahun 2010 yang rata-rata mencatatkan pertumbuhan laba diatas 20% menunjukkan bahwa aktifitas pada sektor riil Indonesia juga terus tumbuh ditengah kekhawatiran melambatnya proses pemulihan ekonomi dunia. Sedangkan yang terbaru adalah kabar, dimana BPS menyebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia selama tahun 2010 berhasil mencatatkan peningkatan sebesar 21,9% dibandingkan tahun 2009. Kenaikan ekspor yang signifikan tersebut didorong oleh melonjaknya ekspor non migas Indonesia, terutama sektor manufaktur, CPO, emas, karet dan batubara. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kinerja perusahaan indonesia yang berorientasi ekspor selama tahun 2010 ini sangat menggembirakan sehingga memberikan sentimen positif kepada kinerja ekspor indonesia sepanjang tahun 2010.

 Namun demikian massifnya capital inflow ke pasar Indonesia memunculkan pertanyaan tersendiri dibenak para analis ekonomi, dimana banyak analis yang mempertanyakan komitmen dari dana asing tersebut untuk tetap bertahan lama di Indonesia, atau dengan kata lain tidak sedikit yang mengatakan bahwa arus dana asing tersebut merupakan uang panas (hot money) yang dapat menciptakan gelembung ekonomi di sektor moneter Indonesia. Dengan demikian untuk mempertahankan capital inflow agar tidak serta merta keluar, Indonesia perlu meningkatkan beberapa sektor yang sampai saat ini masih menjadi kelemahan mendasar dan dipercaya dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi kedepannya. Sektor yang paling utama adalah masalah infrastruktur, dimana menurut data yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) ada 3 sektor infrastruktur yang perlu mendapat perhatian serius yaitu pelabuhan, jalan raya, serta suplai listrik. WEF melihat bahwa ketiga infrastruktur indonesia tersebut masih tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. Disamping itu, WEF juga menggaris bawahi mengenai implementasi tekhnologi dalam sektor industri Indonesia. Untuk hal ini Indonesia masih tergolong lambat dalam mengimplementasikan tekhnologi dalam upaya efektifitas dan effisiensi dalam operasional produksi industri.

Diluar kelemahan tersebut terdapat tiga hal (key triger) yang dapat dijadikan alasan bagi investor asing untuk tetap bertahan di Indonesia, tiga key triggeryang dipercaya dapat menarik minat investor asing serta mampu menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi dimasa yang akan datang adalah:

 -    Besarnya Pasar Domestik Indonesia, dimana menurut IMF Indonesia adalah pasar terbesar ke empat dunia, setelah China, India, Amerika.

-    Murahnya upah tenaga kerja Indonesia dibandingkan negara lainnya di Asia

-    Sumber daya alam yang melimpah, dimana beberapa sektor sumber daya alam tersebut adalah yang terbesar dan terbaik di dunia. berikut beberapa Sumber daya alam kelas dunia yang menjadi kekuatan ekonomi Indonesia.

Sumber Natural Resources Indonesia

Gas Alam Cadangan gas alam 112 ton kubik kaki (salah satu yang terbesar di dunia)
Batu bara
  • Produsen batubara terbesar ke 6 dunia
  • Eksportir batubara terbesar ke 2 dunia
Geothermal Menguasai 40% dari cadangan geothermal dunia
Kelapa Sawit Eksportir kelapa sawit terbesar dunia dengan produksi 19 juta ton pertahun
Cocoa Produsen cocoa terbesar ke dua dunia dengan produksi 770 ribu ton per tahun
Timah Produsen Timah terbesar ke dua dunia dengan produksi 65 ribu ton per tahun
Minyak bumi Cadangan minyak bumi lebih dari 9 Miliar barrel (30 besar dunia)

(sumber dari Depprin RI dan Deptan RI)

 Dengan adanya pembangunan di sektor infrastruktur, meningkatnya implementasi Teknologi Informasi dalam industri manufaktur serta adanya berbagai competitive advantage yang dimiliki Indonesia dipercaya akan menjadi senjata ampuh untuk dapat mendorong pertumbuhan Foreign Direct Investment di Indonesia, memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk beberapa tahun mendatang serta mampu menjadikan Indonesia sebagai motor bagi proses pemulihan ekonomi dunia.

Categories: Published Articles

ANALISA TECHNICAL

May 3, 2011 1 comment

ANALISA IHSG

ANALISA BANK SAUDARA

ANALISA TELKOM

ANALISA BANK JABAR

ANALISA KRAKATAU STEEL

Categories: Published Articles

Mewaspadai Bahaya Laten Hot Money

November 14, 2010 Leave a comment

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA

(Middle Analyst PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk)

Email : m.vickry@gmail.com

Phone : +62 813 2804 3661

 

Awal bulan November 2010, pasar finasial di seluruh dunia dikejutkan oleh langkah berani the Fed yang memutuskan untuk mengucurkan stimulus ke pasar sebesar 600 Milliar USD atau setara dengan Rp.5400 Triliun. Kebijakan the Fed yang dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE) tersebut dilakukan melalui mekanisme pembelian surat berharga pemerintah (US Treasury) yang dimiliki oleh berbagai Institusi di Amerika dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika. Perlu diketahui bahwa hingga kuarter ke III 2010 ekonomi Amerika terancam oleh tingginya angka pengangguran (9,6%) serta munculnya tanda-tanda deflasi, oleh karena itu the Fed memutuskan untuk melakukan Quantitative Easing dengan tujuan utama untuk menstabilkan harga dan mendorong pertumbuhan pekerjaan di Amerika. Lebih lanjut, The Fed menjelaskan akan melakukan pembelian US treasuri secara bertahap sebesar 75 Milliar USD perbulan hingga pertengahan tahun 2011.

Kebijakan yang dilakukan the Fed tersebut sejujurnya bukan yang pertama dilakukan, karena selama tahun 2009 lalu the Fed telah mengucurkan stimulus senilai 1.2 Triliun USD dimana Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membeli aset-aset busuk perbankan dan 300 Miliar USD untuk membeli US treasury. Awalnya, stimulus tersebut diharapkan dapat mendorong proses pemulihan ekonomi Amerika, namun pada kenyataannya dana bernilai milyaran USD tersebut masih belum cukup untuk memulihkan ekonomi Amerika sehingga memaksa the Fed kembali untuk mengeluarkan stimulus tahap keduanya tahun ini.

Pada perjalannya, Kebijakan Quantitative Easing tidak hanya dilakukan oleh the Fed karena bulan maret 2009, Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meluncurkan program stimulus ekonomi senilai 400 miliar Euro yang akan diterapkan hingga tahun 2011. Seperti tidak ingin kalah, pada agustus 2010 giliran Jepang yang mengumumkan kebijakan stimulus Ekonomi senilai 61 miliar USD. Baik Uni eropa dan jepang mempunyai tujuan yang sama dalam menggelontorkan stimulus tersebut yaitu untuk memperkuat kondisi ekonomi yang sedang lesu.

Aksi the Fed, Uni Eropa dan Jepang tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap negara lainnya di dunia khususnya di emerging market mengingat selama krisis emerging market telah menjadi penopang ekonomi dunia sehingga tidak jatuh lebih dalam. Tanda-tanda aliran dana tersebut masuk ke emerging market tercermin pada terus meningkatnya pasar finansial di emerging market sejauh ini. Derasnya aliran modal investor global ke pasar finasial di emerging market terjadi karena suku bunga dolar AS, Euro dan yen sangat rendah dan diperkirakan akan tetap rendah hingga 2011 mengingat ekonomi negara-negara tersebut masih rapuh. Kenyataan tersebut pada akhirnya mendorong investor global untuk memindahkan investasinya di pasar finansial di negara dengan kriteria tertentu.

Kriteria negara seperti apa? Yaitu negara yang pertumbuhan ekonominya pesat  dan negara yang suku bunganya tinggi sehingga spekulator bisa meminjam dolar dan memarkir dana tersebut di surat utang negara (SUN) yang imbal hasilnya tinggi. Kriteria tersebut secara langsung menunjuk Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi investor global. Diluar kriteria tersebut, positifnya pandangan berbagai institusi internasional dunia terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga telah menjadi trigger utama masifnya capital inflow ke Indonesia.

Seperti diketahui pada Januari 2010 the Fitch Ratings meningkatkan rating Indonesia menjadi satu tingkat dibawah level layak investasi (investment grade), hal yang sama juga dilakukan oleh Standard & Poor’s pada Maret 2010 yang menaikkan rating utang Indonesia dua tingkat dibawah investment grade. Dan seperti tidak ingin kalah, pada Juni 2010, Moody’s Investors Service juga menaikkan peringkat utang Indonesia dari outlook stabil menjadi positif dengan rating Ba2.

Masih dibulan juli 2010, IMF merilis laporannya yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara G-20 dengan investment return yang paling tinggi, mengingat tingkat suku bunga  Indonesia merupakan yang tertinggi di G-20. IMF menyebutkan spread antar bunga pinjaman dan bunga deposito Indonesia adalah tertinggi ke dua di G-20 setelah rusia, hal tersebut menarik minat investor untuk masuk ke Indonesia khususnya ke sektor perbankan. Setelah IMF giliran World Economic Forum (WEF) yang memberikan pandangannya terhadap Indonesia. Berdasarkan laporan yang dirilisnya bulan September, WEF mencatatkan Indonesia sebagai Negara dengan kenaikan Indeks daya saing paling impresif di dunia. Dalam laporannya, indeks daya saing Indonesia 2010 naik 10 tingkat ke posisi 44 dari 139 negara. Peningkatan tersebut didorong oleh semakin membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia serta meningkatnya indikator pendidikan Indonesia. Lebih lanjut, WEF menyebutkan bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan kondisi ekonominya tetap sehat selama masa krisis 2008. Seperti diketahui hutang Indonesia tercatat sebesar 27% dari total GDP, hal tersebut mencerminkan resiko hutang Indonesia yang kecil. Rendahnya default risk terhadap obligasi yang diterbitkan Indonesia mendorong investor untuk berinvestasi di surat berharga yang diterbitkan Indonesia.

Yang terakhir giliran UK Trade & Investment (UKTI) yang memberikan pandangannya terhadap Ekonomi Indonesia. Perlu diketahui bahwa UKTI merupakan acuan investor di UK dalam berinvestasi. Dalam laporannya yang dirilis pertengahan september lalu, UKTI menyebutkan bahwa Indonesia adalah Negara tujuan investasi pilihan investor ke empat dunia setelah China, Vietnam dan India. UKTI bahkan mengidentifikasi Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan jangka panjang yang paling tinggi di dunia.

5 Negara Dengan Prediksi Pertumbuhan GDP Tertinggi Periode 2010-2030 (Miliar USD)

Negara 2010 2030 Pertumbuhan
India 4.108 28.415 592%
China 10.020 58.998 489%
Mesir 500 2.928 486%
Indonesia 1.028 5.634 448%
Vietnam 276 1.507 446%

Source: Economist Intelligence Unit.

Secara lansung pandangan institusi dunia tersebut telah mengarahkan investor untuk memilih Indonesia sebagai tujuan investasi sehingga mendorong massivenya capital inflow. Diluar pandangan tersebut, positifnya laporan keuangan emiten bursa pada semester I/2010 yang rata-rata mencatatkan pertumbuhan penjualan diatas 30% juga menjadi jawaban bahwa pandangan dari berbagai institusi keuangan dunia tersebut tidak salah.

Penguatan Rupiah dan Langkah antisipasi BI

Derasnya capital inflow yang masuk ke pasar finansial Indonesia terbagi dalam tiga instumen yaitu SUN, SBI, dan saham, dimana dalam 9 bulan pertama 2010, dana asing berbentuk hot money yang masuk ke Indonesia sebesar Rp115 triliun, dengan penjabaran 64% masuk ke SUN, 18% ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan 18% ke saham. Bila ditelusuri lebih dalam, Rp.20 Triliun dari hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kenaikan yang signifikan terhadap IHSG dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia.

Terus meningkatnya harga saham di bursa Indonesia sejauh ini juga telah menjadikan bursa saham indonesia sebagai bursa dengan kapitalisasi terbesar ke 6 diantara emerging country, setelah China, India, Brazil, Mexico dan Rusia. Pesatnya peningkatan kapitalisasi bursa indonesia ini juga didorong oleh banyaknya aksi korporasi emiten indonesia seperti IPO dan right issue seiring dengan derasnya capital inflow sebagai dampak dari kebijakan the Fed yang terus membanjiri pasar dengan USD.

Membanjirnya capital inflow kedalam negeri tidak hanya mengangkat bursa Indonesia mencapai level tertingginya dalam sejarah tapi juga memberikan pengaruh langsung pada Rupiah mengingat penguatan Rupiah sangat berkaitan dengan penguatan yang terjadi pada bursa saham dan surat utang Indonesia. Semakin besarnya dana asing yang masuk ke SUN dan saham maka semakin cepat pula penguatan rupiah. Hal ini terlihat pada pergerakan rupiah dalam dua tahun terakhir dimana Ibarat tak terbendung, rupiah terus menguat dari 11.120 per dolar AS pada akhir 2008 ke 9.400 di akhir 2009 dan 8.920 pada Oktober 2010 hingga akhirnya menembus level dibawah 8.900 pada awal november 2010.

Namun demikian, bagi Indonesia yang ekonominya tidak tergantung pada ekspor, penguatan mata uang rupiah, selama tidak tajam, masih berdampak positif. Perlu diketahui bahwa di Indonesia sekitar 70% dari produk domestik bruto (PDB) digerakkan oleh konsumsi domestik, 20% oleh investasi sedangkan net-ekspor hanya menggerakan 10% dari PDB. Penguatan rupiah pada dasarnya mampu menahan inflasi khususnya pada barang impor yang artinya menghambat kenaikan suku bunga sehingga tidak memperngaruhi daya beli masyarakat.

Selain itu, data BPS menyebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia selama periode Agustus 2010 mampu mencapai level tertingginya sepanjang sejarah yaitu pada level 13,71 miliar USD, dan apabila dibandingkan dengan nilai ekspor dibulan yang sama pada tahun 2009, nilainya tercatat tumbuh sebesar 30%. Kenaikan ekspor yang signifikan tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah masih belum memberikan dampak negatif langsung terhadap eksportir. Hanya saja, itu bukan berarti BI boleh lepas tangan terhadap penguatan rupiah karena apabila BI membiarkan rupiah menguat terus menerus maka nilai cadangan devisa BI berdenominasi rupiah akan merosot tajam dimana hal ini tentu tidak diinginkan oleh bank sentral manapun diseluruh dunia.

Oleh karena itu untuk menghambat penguatan rupiah secara signifikan, Bank Indonesia sebagai regulator melakukan intervensi di pasar uang, dengan menjual rupiah dan membeli dolar. Sejauh ini, peran BI masih cukup kuat untuk menghambat penguatan rupiah, hanya saja adanya kebijakan stimulus tahap ke dua the Fed menimbulkan pertanyaan tersendiri di pasar yaitu seberapa banyakkah amunisi yang dimiliki oleh BI untuk mampu memperlambat penguatan rupiah. Pertanyaan ini seakan terjawab karena pada awal november ini, nilai tengah Rupiah telah menembus level 8900, suatu level yang telah dipertahankan BI sejauh ini.

Lebih lanjut, langkah intervensi yang dilakukan BI ke pasar bukan tanpa masalah karena kebijakan tersebut akan membuat cadangan devisa BI dalam USD meningkat secara signifikan dan akan menjadi masalah besar seandainya USD kembali menguat. Disisi lain, intervensi pembelian dolar yang agresif juga berimplikasi pada penyuntikan dana rupiah secara besar-besaran ke sistem ekonomi dan mendorong peningkatan signifikan terhadap jumlah rupiah yang beredar dipasar dimana apabila dana ini tidak diserap oleh sektor real, akan berpotensi memicu inflasi.

Untuk itu, dalam meredam potensi kenaikan inflasi, BI harus melakukan ‘sterilisasi’ dengan tujuan menyerap kembali ekses likuiditas rupiah dengan melakukan operasi pasar terbuka (OPT) melalui mekanisme penjualan SBI. Tercatat hingga akhir september 2010 BI telah melelang SBI senilai Rp. 251,8 triliun. Namun demikian aksi lelang SBI ini memberikan konsekuensi tersendiri bagi BI dimana BI harus membayar beban bunga yang cukup besar atas SBI yang diterbitkannya. Paling tidak BI harus membayar minimal 6,5% per tahun sesuai dengan BI Rate saat ini, sedangkan cadangan devisa BI yang berbentuk dolar AS dan dibelikan SUN AS bertenor 5 tahun hanya memberikan imbal hasil sebesar 1,8%. Sehingga dalam contoh ini ada negative carry (kerugian) sebesar 4,7% yang tentunya tidak diinginkan oleh BI. Oleh karena itu bagai buah simalakama setiap kebijakan yang diambil oleh BI guna meredam dampak langsung derasnya capital inflow membuka konsekuensi baru bagi BI dari sisi lain, namun demikian sebagai pengawas tertinggi moneter nasional BI harus siap at all cost menjaga stabilitas moneter nasional.

Waspadai Capital Outflow

Selain penguatan yang signifikan terhadap rupiah, derasnya capital inflow memberikan kekhawatiran tersendiri bagi sektor moneter Indonesia khususnya pasar modal. Penguatan signifikan yang terjadi pada pasar modal Indonesia yang dipicu oleh aliran hot money asing perlu diwaspadai oleh pemerintah mengingat capital inflow tersebut sewaktu-waktu dapat berbalik menjadi capital outflow atau sudden reversal jika sentimen pasar berbalik tajam. Bahkan the Fitch rating memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini dengan mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara paling berisiko ketiga di Asia akibat hot money. the Fitch melihat bahwa kebijakan QE dari the Fed akan menciptakan capital inflow yang masif ke Indonesia sebagai salah satu emerging market terbaik di Asia sehingga risiko terjadinya capital outflow pun akan semakin tinggi dan dapat terjadi kapan saja. Walaupun, sejauh ini Bank Indonesia cukup baik dalam mengelola capital inflow dengan menerapkan kebijakan one month holding SBI dan mulai menggiring dana bank yang menganggur supaya bisa ditempatkan di term deposit. Namun semakin derasnya capital inflow membuat BI harus memutar otak lebih keras dalam mengelola hot money tersebut sehingga tidak memberikan dampak negatif pada sistem perekonomian Indonesia.

Untuk memperlambat derasnya arus modal asing ke Indonesia, banyak pihak yang mendorong pemerintah untuk menerapkan capital control terhadap aliran hot money tersebut, tapi perlu dicatat bahwa saat ini telah terjadi pergeseran dana investor global secara fundamental yaitu dari negara maju ke negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat. Pergeseran ini sangat kuat sehingga capital control sekalipun tidak akan efektif dalam menghambat aliran modal ini. Dalam hal ini Capital control hanya bisa ‘membelokkan’ arus modal asing ini, misalnya dari SBI ke saham, tetapi tidak bisa memhentikannya, apa lagi jika fundamental ekonomi Indonesia terus tumbuh seperti saat ini. Disamping itu kebijakan capital control bagi hot money tersebut dapat menjadi bumerang bagi Indonesia, mengingat hal tersebut dapat menjadi sentimen buruk bagi investor global dan justru menjadi pemicu terjadinya capital outflow seperti yang pernah dialami oleh Thailand. Belajar dari pengalaman Thailand, dimana pada akhir 2006, Thailand mencoba mengerem hot money yang masuk dengan cara melakukan capital control. Dampaknya terjadi kekhawatiran dikalangan investor asing sehingga dalam waktu satu hari saja kapitalisasi 20 perusahaan besar di Thailand turun tajam dipasar modal. Pada akhirnya Thailand pun mengubah policy-nya. Untuk itu sejauh ini, kebijakan fiskal dengan memberlakukan capital control dinilai belum dapat dilakukan. Karena jika penerapannya dilakukan dengan kurang hati-hati, maka capital market juga akan turun.

Disamping itu Undang-undang (UU) Bank Indonesia (BI) menganut sistem capital free flow,artinya aliran dana asing bebas masuk dan keluar kapan saja. Hal ini membuat pemerintah sulit untuk mengatur arus dana asing yang masuk (capital inflow) ke pasar modal karena kalau pemerintah membatasi hal itu artinya bertentangan dengan UU. Lagipula sejauh ini kepemilikan asing di pasar modal Indonesia sekitar 66 persen sampai 67 persen. Nilai  tersebut belum banyak berubah dibanding posisi 3 tahun terakhir yang berkisar antara 67 persen-68 persen artinya pertumbuhan kapitalisasi pasar modal indonesia yang didorong oleh derasnya capital inflow masih mampu diimbangi oleh pertumbuhan jumlah investor domestik dimana hal ini tentu baik untuk pasar modal Indonesia.

Namun demikian bukan berarti perintah tidak mempunyai senjata untuk meredam dampak dari hot money terhadap sektor pasar modal Indonesia karena dalam hal ini pemerintah dapat menahan terjadinya capital outflow dengan menyerap arus modal asing ke sektor real. Dalam hal ini pemerintah dapat mendorong perusahaan melakukan aksi korporasi seperti right issue, Initial Public offering (IPO), dan penerbitan obligasi untuk membiayai capital expenditurnya. Aksi tersebut diharapkan dapat menahan hot money bertahan lebih lama di Indonesia. Disisi lain Aksi korporasi perusahaan dalam negeri tersebut dapat memperbesar porsi investor domestik di pasar modal. Sejauh ini dorongan pemerintah tersebut disikapi positif oleh perusahaan dimana menurut catatan Bapepam-LK, pada kuartal ke IV-2010, sebanyak 12 calon emiten akan IPO dengan target perolehan dana senilai Rp 23 triliun, lima perusahan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 10 triliun, dan lima perusahaan akan right issue senilai Rp 14,55 triliun. Total dana dari aksi korporasi itu mencapai Rp 48 triliun.  Aksi korporasi ini diharapkan dapat meredam risiko terjadinya capital outflow dalam jumlah besar.

Disamping mendorong perusahaan Indonesia melakukan aksi korporasinya, pemerintah juga dapat mengimplementasikan kebijakan penerapan pajak seperti yang telah dilakukan Brazil. Namun perlu dicatat, penerapan pajak tersebut tidak bisa diterapkan dengan pola yang berkelanjutan, dalam arti pemberian pajak ini hanya dikenakan sekali. Karena penerapan pajak yang berkelanjutan dapat berdampak pada menurunnya minat investasi investor asing di Indonesia.

Derasnya capital inflow ke Indonesia sejauh ini tidak dapat dihindari mengingat kenyataan ekonomi Indonesia yang selama krisis global tetap mampu tumbuh. disisi lain fakta bahwa tingginya imbal hasil investasi dalam rupiah dibandingkan mata uang lainnya menjadi pemanis tersendiri bagi Indonesia dimata investor global. Pada akhirnya pemerintah harus bersikap bijak dalam mengelola derasnya capital inflow ke Indonesia tersebut. Dalam hal ini pemerintah harus pandai mengelola dana tersebut, sehingga dana-dana asing yang mengalir secara deras ke Indonesia tersebut tidak hanya berputar- putar di sektor moneter yang bisa berekses pada inflasi, tetapi juga mengalir ke sektor real yang bermanfaat untuk penciptaan lapangan kerja.

Bila derasnya capital inflow ini tidak dimanfaatkan dengan bijak, maka dana asing tersebut benar-benar akan menjadi ancaman serius bagi negara ini. Namun demikian juga sebaliknya, bila pemerintah dapat memanfaatkannya dengan baik dan benar, maka akan membawa berkah dan keberuntungan bagi perekonomian negara ini, khususnya masyarakat luas.

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA

(Middle Analyst PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk)

Email : m.vickry@gmail.com

Phone : +62 813 2804 3661

Categories: Published Articles

Menakar Dampak Krisis Hutang Eropa terhadap Prospek Investasi di Indonesia Semester ke II 2010 (Part 1)

July 1, 2010 1 comment

Oleh Muhammad Fikri STP, MBA (middle analyst PT BNI (Persero) Tbk), disiapkan untuk Banking and Management Magazine (edisi July-August 2010)

Sejak tahun 2000 hingga 2007, Yunani dikenal sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa, akibat meningkatnya investasi asing yang membanjiri Negara tersebut. Dalam kurun waktu 7 tahun itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi Yunani tumbuh sebesar 4,2% per tahun. Ekonomi yang kuat serta rendahnya yield obligasi pemerintah sebagai refleksi dari rendahnya “country risk” Yunani, memungkinkan pemerintah yunani berhutang dengan menerbitkan obligasi secara terus menerus guna membiayai sector publiknya. Hal ini berlajut setelah diluncurkannya Euro, dimana pemerintah Yunani mempunyai kesempatan untuk melakukan pinjaman dengan mata uang EURO yang bernilai tinggi dengan bunga yang rendah karena rendahnya “country risk” Yunani. Pembiayaan yang tidak terkendali membuat Yunani terperangkap pada ratio hutang terhadap produk domestic bruto (GDP) yang besar yaitu diatas 100% pada saat itu.

Pada tahun 2009, krisis subprime mortgage yang melanda dunia memberikan pukulan telak terhadap perekonomian Yunani, dua industri terbesar di Negara tersebut yaitu industri pelayaran serta pariwisata mengalami tekanan hebat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar 15% pada tahun 2009. Dalam upaya memastikan bahwa kondisi perekonomiannya masih terkendali, pemerintah yunani “membayar” beberapa bank krediturnya untuk menutupi nilai hutang yunani yang sesungguhnya. Hingga pada akhirnya rekayasa terhadap laporan keuangan yunani terbongkar, dan pada akhir tahun 2009 pemerintah George Papandreou merevisi defisit anggaran pemerintahnya menjadi 12.7% terhadap produk domestic bruto (GDP) dari sebelumnya 6%. Keterpurukan Yunani terus berlanjut, karena pada tanggal 27 April 2010, lembaga rating internasional Standard & Poor’s menurunkan rating hutang Yunani menjadi BB+ yang merupakan rating untuk “junk bond” dikarenakan tingginya kekhawatiran pasar terhadap ketidakmampuan Yunani untuk membayar hutangnya dan membeli kembali obligasinya. Penurunan rating hutang Yunani kemudian juga dilakukan oleh the Fitch dan Moody.

Setelah penurunan rating tersebut kondisi perekonomian Yunani terus memburuk, dimana pada bulan mei 2010, defisit anggaran pemerintah yunani melonjak menjadi 13.6%, dan merupakan defisit anggaran terbesar di dunia dengan rasio hutang terhadap GDP sebesar 115%.

Kondisi perekonomian Yunani yang morat marit pada akhirnya mendorong kekhawatiran pasar bahwa kondisi tersebut akan berimplikasi ke Negara lainnya di Eropa, terutama ke Eropa Selatan atau yang sering disebut dengan PIGS (Portugal, Italy, Greece and Spain). Perlu diketahui bahwa kelompok Negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang mirip, dimana rata-rata Negara tersebut memiliki rasio hutang terhadap PDB yang besar, serta terperangkap oleh defisit anggaran yang tinggi dalam membiayai sector publiknya. Kesamaan karakteristik inilah yang menjadi kekhawatiran pasar, karena hal ini mengingatkan pasar terhadap krisis Asia 1998 dimana krisis yang terjadi di Argentina, menjalar ke Thailand hingga ke Indonesia akibat adanya kesamaan karakter ekonomi ketiga Negara tersebut.

Hingga akhirnya, kekhawatiran pasar terhadap implikasi krisis hutang yunani ke Negara lainnya di Eropa menjadi kenyataan, karena seperti diberitakan Blommberg pada tanggal 29 May 2010, The fitch akhirnya menurunkan rating hutang Spanyol menjadi AA+ dengan outlook stabil. Penurunan rating hutang Spanyol dari AAA yang telah dipertahankan selama 7 tahun (sejak tahun 2003) menjadi AA+ pada tahun ini tentunya menandakan bahwa kondisi perekonomian spanyol menurun. Tidak hanya sampai di Spanyol, karena seminggu kemudian tepatnya pada 4 Juni 2010, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengatakan bahwa kondisi perekonomian Hungaria sedang berada pada kondisi yang sangat kritis “very grave situation”, akibat munculnya kekhawatiran akan defaultnya kredit perumahan di Hungaria. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadi trigger utama melemahnya EURO terhadap USD menjadi US$ 1.196 yang merupakan titik terendah EURO terhadap USD dalam 4 tahun terakhir (contd).

Categories: Published Articles
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.