Home > Knowledge Sharing > “Suku Bunga” tidak akan pernah menciptakan keseimbangan ekonomi

“Suku Bunga” tidak akan pernah menciptakan keseimbangan ekonomi

Mungkin peryataan tersebut bukan hal yang mudah untuk dipahami, tapi saya berharap apa yang saya tuliskan dapat menjadi gambaran bagaimana sistem suku bunga tidak akan pernah menciptakan keseimbangan ekonomi. Tanpa kita sadari uang Rp.100 yang kita miliki saat ini seakan tidak bernilai lagi keberadaanya, saya masih ingat ketika kelas 1 SD, sekitar tahun 1990 saya diberikan uang jajan oleh ibu sebesar Rp.100 dan uang tersebut dapat saya gunakan untuk membeli satu piring nasi kuning lengkap dengan sisiran telur dan sambalnya. Dan sekarang, tahun 2010, jangankan untuk satu piring nasi kuning, untuk 1 permen karet saja mungkin masih belum cukup. Pertanyaannya apa yang telah menyebabkan nilai uang tersebut dalam waktu 20 tahun menjadi turun nilainya?

Hal tersebut tidak lain terjadi karena adanya kenaikan harga barang-barang disekitar kita (inflasi). Sehingga pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mengapa harga barang tersebut bisa naik dengan cepat. Maka yang saya pahami hal tersebut terjadi karena jumlah uang yang beredar pada tahun 2010 jauh lebih banyak dari pada yang beredar tahun 1990.

Saya mengenalogikan ada dua orang yang mempunyai uang Rp.100 dan mereka sama-sama ingin membeli nasi kuning dengan harga Rp.100 yang tinggal 1 piring. bila kita berbicara mengenai hukum pasar (hukum supply and demand) maka seyogyanya harga nasi kuning tersebut akan naik melihat jumlah demand lebih tinggi dari pada supply nya. Akan tetapi bila kemampuan kedua pembeli hanya sebatas Rp.100 maka harga nasi kuning tersebut tidak akan pernah naik melebihi harga Rp.100 walaupun demandnya lebih tinggi dari pada supplynya. sehingga yang memungkinkan menjadi alasan kenaikan harga nasi kuning tersebut adalah bila kedua pembeli tersebut mempunyai uang yang lebih besar dari Rp.100 (Rp.300 atau Rp.500).

Semakin banyaknya uang yang beredar dimasyarakat telah menyebabkan kenaikan harga barang yang tinggi disekitar kita. Sekarang pertanyaannya mengapa BI harus memproduksi uang secara terus menerus sehingga uang yang beredar semakin besar di masyarakat. Hal ini terjadi tidak lain karena BI memberlakukan sistem Suku bunga. Sebagai contohnya, saya asumsikan suku bunga BI sebesar 10% pertahun, artinya kalo saya menyimpan uang di bank sebesar Rp.1 juta maka bank BI akan memproduksi uang sebesar Rp.100 ribu (10% dari uang yang saya simpan) untuk membayar bunga dari simpanan saya.

Salah satu kebijakan BI yang merefleksikan penjelasan saya diatas adalah “tight money policy”. Kebijakan ini akan dikeluarkan oleh BI bila inflasi di Indonesia terlalu tinggi. Salah satu bentuk dari kebijakan tersebut adalah meningkatkan suku bunga dengan harapan uang yang beredar di masyarakat terserap oleh perbankan sehingga mengurangi jumlah uang yang beredar dan menurunkan inflasi. Menurut saya apa yang dilakukan BI tersebut justru menimbulkan potensi inflasi yang jauh lebih besar di waktu yang akan datang, karena semakin banyak dana yang ditarik oleh BI maka semakin besar pula uang yang akan dicetak oleh BI untuk membayar suku bunganya.

Mekanisme suku bunga tidak akan menciptakan equilibrium ekonomi, karena adanya suku bunga akan memaksa BI untuk terus memproduksi uang yang pada akhirnya menyebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat akan terus bertambah. Dimana artinya kenaikan harga barang (inflasi) akan terus menghantui kehidupan kita. Dan yang lebih parahnya uang/kekayaan yang terus diproduksi BI tidak tersebar secara merata dimiliki oleh rakyat Indonesia, karena dari 200 juta populasi Indonesia, sekitar 4 juta orang menguasai 72% dari total uang di Indonesia.

Muhammad Fikri

Categories: Knowledge Sharing
  1. cici
    October 17, 2010 at 11:27 PM

    salam kenal,

    dari tadi saya baca artikel2 yang ada di web ini bermutu sekali. btw saya masih sedang memahami tentang inflasi, dan sudah banyak baca artikel juga, tapi entah kenapa ada yang belum benar2 saya pahami. katakan saja kita bicara tentang inflasi yang disebabkan oleh permintaan konsumen (demand-pull) seperti contoh yang mas kasih tentang nasi kuning dalam artikel diatas. harga nasi kuningnnya kan Rp100, karena permintaannya tinggi kan harganya naik jadi katakan Rp500, dan misalnya konsumen tetap punya uang untuk beli walaupun harganya naik. pertanyaan saya mungkin gak di kemudian hari nanti harga nasi kuning turun lagi jadi Rp100?? habis yang dari tadi saya baca, kalo harga sudah naik gak mungkin turun lagi, lah ko bisa ya? bukannya logikanya kalo permintaan nasi kuningnya sudah turun (dan asumsi biaya produksinya tetap), harusnya harganya bisa turun kan? maaf kalo pertanyaannya bodoh mas, tapi aku masih bingung itu.. thanks before.

  2. February 5, 2015 at 3:14 AM

    jajaaj Madre mia quue contenido Me acabo de suscribir a este tu blog porque me
    encanta

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: