Home > Knowledge Sharing > Outlook Investasi Q-II 2010 Dan Sektor Batubara Indonesia

Outlook Investasi Q-II 2010 Dan Sektor Batubara Indonesia

Oleh: Muhammad Fikri (Middle Analyst PT BNI (Persero) Tbk
Outlook Makro Ekonomi Dunia Dan Indonesia

Setelah setahun lebih krisis keuangan global melanda dunia dan melumpuhkan aktivitas ekonomi di banyak negara, kini tanda-tanda kebangkitan ekonomi dunia sudah nampak. Amerika Serikat sebagai kiblat perekonomian dunia yang paling merasakan dampak krisis keuangan global, kini telah menunjukkan tanda-tanda bahwa perekonomiannya mulai bangkit kembali. Pertumbuhan ekonomi AS telah kembali berada di area positif setelah tahun 2008 mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari yang diperkirakan terjadi akibat besarnya stimulus ekonomi yang digelontorkan negara besar seperti Amerka Serikat, Cina, Jepang dan negara Eropa ternyata mampu menahan ekonomi dunia untuk tidak jatuh ke jurang krisis yang lebih dalam.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menaikkan proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi global 2010 menjadi 2,5 persen. Sejalan dengan IMF, Bank Dunia juga menilai puncak krisis finansial telah terlewati dan ekonomi dunia mulai berangsur pulih. Namun demikian pemulihan ekonomi masih rentan dengan gejolak.

Senada dengan ekonomi Negara lainnya, beberapa instansi Nasional dan Internasional juga memprediksikan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2010 akan tumbuh. Pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010 diperkirakan berasal dari meningkatnya permintaan dalam negeri (domestik) serta didukung pemulihan permintaan luar negeri terutama Amerika Serikat.

Prediksi Ekonomi Dunia 2009-2010

Gambaran

2009

2010

Pertumbuhan GDP dunia:

Amerika Serikat

Eropa

Jepang

Negara berkembang

China

ASEAN (Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia dan Singapura)

-1,1 %

-2,7 %

-4,2 %

-5,4 %

1,7 %

8,5 %

0,7 %

3,1 %

1,5 %

0,3 %

1,7 %

5,1 %

9,0 %

4,0 %

Pertumbuhan Perdagangan dunia

-11,9 %

2,5 %

Sumber: IMF, World Economic Outlook, October 2009

Senada dengan ekonomi Negara lainnya, beberapa instansi Nasional dan Internasional juga memprediksikan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2010 akan tumbuh. Pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010 diperkirakan berasal dari meningkatnya permintaan dalam negeri (domestik) serta didukung pemulihan permintaan luar negeri terutama Amerika Serikat.

Prediksi GDP Indonesia oleh beberapa organisasi Nasional dan Internasional

No

Organisasi

Tanggal dikeluarkan

2009

2010

1.

Bank Indonesia

Maret 2009

3,5%

5%

2.

Institute of International Finance (IIF)

Juli 2009

4,5%

5,5%

3.

Pemerintah Indonesia

September 2009

4,5%

5,5%

4.

Asian Development Bank (ADB)

September 2009

4,3%

5,4%

5.

World Bank

September 2009

4,3%

5,4%

6.

Economist

Oktober 2009

4,2%

4,5%

7.

International Monetary Fund (IMF)

Oktober 2009

4%

4,8%

Disamping adanya peningkatan permintaan dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan banyak dipengaruhi sisi investasi yang tumbuh 7,2% dan pertumbuhan ekspor sebesar 5,1%. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan stimulus fiskal. Disamping itu ekspor diperkirakan akan membaik seiring dengan pemulihan ekonomi global, demikian juga dengan impor terutama barang modal akibat peningkatan permintaan industri manufaktur.

Walaupun semua indikator ekonomi menunjukkan arah perbaikan, tidak demikian dengan peluang investasi di pasar surat berharga khususnya pada kuartal ke II 2010. Banyak analis yang berpendapat bahwa kenaikan pasar surat berharga di beberapa Negara pada akhir tahun 2009 telah berakhir, karena kenaikan tersebut didorong oleh besarnya likuiditas akibat stimulus ekonomi dari beberapa negara besar dunia yang dipercaya tidak bertahan lama. Sehingga dalam jangka pendek di semester awal tahun 2010 akan ada koreksi terhadap pasar surat berharga di beberapa Negara yang dulunya kebanjiran likuiditas.

OUTLOOK INVESTASI INDONESIA KUARTAL-II 2010

Pada tanggal 19 Februari 2010, Federal Reserve telah mengeluarkan keputusan moneter dengan menaikkan suku bunga diskonto untuk pinjaman darurat dari the Fed kepada perbankan sebesar 25 basis poin menjadi 75 basis poin. Langkah tersebut akan mendorong perbankan di Amerika untuk meminjam dana dari institusi swasta, bukan lagi dari the Fed. Disamping itu sejak tanggal 25 Februari 2010 bank sentral China juga mengumumkan pengetatan kebijakan moneter dengan menaikan giro wajib minimum untuk perbankan besar di China sebesar 0,5%. Kebijakan tersebut dilakukan oleh bank sentral China untuk mengimbangi tekanan inflasi yang mulai meningkat akibat ekonomi China yang tumbuh luar biasa.

Kedua kebijakan negara ekonomi besar dunia tersebut tentunya akan menyerap kelebihan likuiditas yang beredar di pasar keuangan selama ini. Sehingga dapat dipastikan apabila kelebihan likuiditas yang selama ini menjadi pengerek kenaikan bursa surat berharga diseluruh dunia ditarik, maka diprediksikan memasuki kuartal ke II 2010 akan terjadinya koreksi yang cukup dalam terhadap bursa-bursa saham dan aset-aset beresiko lainnya di seluruh dunia, terlebih lagi untuk bursa Indonesia yang lebih dari 50% dananya merupakan dana asing yang kapan saja dapat keluar dari bursa.

Pada intinya, pengetatan moneter yang dilakukan oleh Negara besar dunia tersebut bertujuan untuk menyerap likuiditas yang telah begitu banyak digelontorkan ke pasar dan mengurangi hot money serta mencegah ekonomi menjadi overheated atau bubble. Sepanjang awal tahun 2010 ini, pasar akan sangat memperhatikan sinyal-sinyal pengetatan moneter yang dilakukan oleh bank sentral dari beberapa negara yang sebelumnya menggelontorkan begitu banyak uang untuk mendukung perekonomian mereka. Meski kebijakan moneter dalam jangka panjang bagus untuk perkembangan perekonomian negara yang bersangkutan, tapi dalam jangka pendek akan menekan pergerakan indeks saham di berbagai Negara yang diprediksi mulai akan dirasakan dampaknya pada kuartal ke II 2010. Prediksi tersebut juga didukung oleh World Bank, dimana menurut World Bank pada paruh ke dua tahun 2010 pertumbuhan ekonomi akan melambat sebagai dampak dari berbagai langkah fiskal dan moneter yang menurun.

Disamping adanya faktor eksternal diatas, kondisi politik Indonesia yang kian memanas juga berpotensi mengganggu stabilitas sektor ekonomi Indonesia. Tekanan terhadap pemerintah dari pansus Century, dalam hal ini kepada wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang notebenenya adalah individu yang di sukai oleh pasar kian menambah ketakutan investor asing untuk masuk ke pasar Indonesia. Dalam kondisi ini investor asing cenderung bertindak wait and see untuk menunggu hasil dari pansus century yang rencananya akan dibacakan pada rapat paripurna DPR pada tanggal 2 Maret 2010. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat pasar modal di Indonesia semakin fluktuatif tidak menentu.

Namun demikian, kondisi tersebut diatas dipercaya tidak akan mengganggu kinerja ekonomi Indonesia untuk jangka panjang. Banyak pihak yang percaya bahwa fundamental perekonomian Indonesia yang berbasiskan sumber daya alam dan pasar domestik yang besar masih terlalu kuat, sehingga peluang investasi bagi dana asing untuk jangka panjang masih terbuka lebar di Indonesia.  Hingga saat ini pihak asing masih sangat tertarik dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, terutama komoditas pertambangan seperti batubara dan pertanian seperti crude palm oil.

OUTLOOK SEKTOR BATUBARA INDONESIA 2010

Dalam beberapa tahun terakhir, batubara telah memainkan peran yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap penerimaan negara yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Pada tahun 2004 misalnya, penerimaan negara dari sektor batubara ini mencapai Rp 2,57 triliun, pada 2007 telah meningkat menjadi Rp 8,7 triliun, dan diperkirakan mencapai Rp 10,2 triliun pada 2008 dan lebih dari Rp 20 triliun pada 2009. Sementara itu, perannya sebagai sumber energi pembangkit juga semakin besar. Saat ini sekitar 71,1% dari konsumsi batubara domestik diserap oleh pembangkit listrik (PLN), 17% untuk industri semen dan 10,1% untuk industri tekstil dan kertas.

Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup spektakuler dalam lima tahun terakhir, yakni dari 28,6 juta ton pada 2003 menjadi 49,0 juta ton pada 2008, atau meningkat sebesar 71,3%. Peningkatan jumlah konsumsi tersebut disebabkan meningkatnya permintaan batubara sebagai sumber energi utama untuk pembangkit listrik, baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam percaturan perdagangan batubara dunia, Indonesia tercatat sebagai produsen batubara terbesar ke enam di dunia. Hingga akhir tahun 2008 China tercatat sebagai produsen batubara terbesar dunia, diikuti oleh USA, India, Australia, Rusia dan Indonesia. Pada 2008, ke enam negara produsen ini menghasilkan sekitar 90,6% dari total produksi batubara dunia. China merupakan produsen terbesar yang menyumbang hampir separuh produksi dunia yakni 46%. Meskipun dikenal sebagai produsen batubara terbesar dunia, China sekaligus tercatat sebagai pengkonsumsi batubara terbesar dunia yang mencapai 46% dari total konsumsi dunia.

Hingga saat ini sebagian besar produksi batubara Indonesia diekspor ke luar negeri. Pada tahun 2008, dari 100% total produksi batubara indonesia, hanya 26% yang dikonsumsi di dalam negeri, sedangkan 74% nya diekspor ke berbagai negara importir seperti Jepang, Taiwan dan Korea. Menurut World Coal Institute, sejak 2004 Indonesia telah menjadi eksportir batubara kedua terbesar setelah Australia, dan merupakan eksportir batubara thermal (ketel uap) terbesar dunia. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan pada 2010 produksi batubara Indonesia mampu mencapai 280 juta ton, lebih tinggi dari target pemerintah 250 juta ton. Sedangkan ekspor batubara bisa menyentuh angka 210 juta ton per tahun, jauh lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 175 juta ton.

kenaikan jumlah produksi itu terdorong oleh kebangkitan ekonomi tiga negara  importir utama batubara Indonesia (Taiwan, Korea, dan Jepang). Belum lagi meningkatnya permintaan domestik menyusul terselesaikannya beberapa PLTU 10.000 MW Tahap pertama. Diantaranya PLTU Labuan, PLTU Rembang, dan PLTU Indramayu. Pada 2010 kemungkinan ada sejumlah PLTU 10.000 MW berkapasitas total 3.000 MW yang menunggu pasokan batubara. Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi (Minerba) memproyeksikan pada 2010 kemampuan konsumsi batubara PLN akan meningkat dari 40-45 juta ton menjadi 60-70 juta ton.

Kembali menguatnya permintaan batubara dunia dan terbatasnya supply batubara diperkirakan akan kembali mengangkat harga jual batubara. Terbatasnya supply batubara terjadi akibat adanya supply yang ketat di China dan India karena kedua Negara produsen batubara terbesar dunia tersebut memilih untuk menahan batubaranya guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Dengan kondisi itu tidak heran Pada 2010 harga batubara diproyeksikan dapat mencapai US$80-US$85 per barel.

Dalam beberapa tahun kedepan prospek industri batubara diperkirakan masih prospektif, baik di pasar dalam negeri maupun di pasar global. Hal ini disebabkan oleh:

1.    Semakin besarnya peran batubara sebagai pembangkit listrik baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia. Di masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang sebagai sumber energi dan sebaliknya peran batubara akan semakin besar.

2.   Pasar batubara dunia akan semakin ketat sebagai akibat meningkatnya permintaan dari dua negara raksasa dunia, China dan India untuk kebutuhan pembangkit listriknya.

3.   Penggunaan batubara sebagai energi alternatif relatif lebih murah dibanding minyak dan LNG.

4.   Harga komoditas batubara masih akan positif hingga beberapa tahun kedepan yang didorong oleh relatif tingginya permintaan dibanding pasokan.

5.   Keuntungan perusahaan tambang Indonesia relatif lebih besar dibandingkan rata-rata perusahaan tambang dunia. Dalam sepuluh tahun terakhir, keuntungan rata-rata perusahaan tambang Indonesia mencapai dua kali perusahaan tambang di Australia.

Menurut catatan Direktorat Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Indonesia, 78,3%  dari total produksi batubara Indonesia dihasilkan oleh 6 perusahaan penambang batubara besar diantaranya PT. Bumi Resources, PT. Adaro Energy, PT. Kideco Jaya Agung (46% sahamnya dikuasai oleh PT Indika Energy), PT. Berau Coal, PT Indo Tambangraya Megah, dan PT Bukit Asam.

KESIMPULAN

Pemulihan ekonomi dunia yang mulai berlangsung di berbagai negara baik negara maju maupun berkembang, telah membawa optimisme terhadap perkembangan ekonomi Indonesia pada tahun 2010. Namun demikian pada awal tahun 2010, pertumbuhan tersebut dipercaya akan sedikit terhambat akibat adanya kebijakan moneter dari dua Negara besar dunia (Amerika dan China) yang melakukan kebijakan pengetatan moneter yang bertujuan untuk menyerap likuiditas yang telah begitu banyak digelontorkan ke pasar dan mengurangi hot money. Disamping itu kian memanasnya kondisi politik Indonesia di awal tahun 2010 dikhawatirkan akan menyeret para petinggi di pemerintahan yang selama ini dikenal pro pasar. Kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut diprediksi dapat menjadi faktor pendorong terjadinya koreksi di pasar surat berharga Indonesia pada kuartal ke II 2010. Dana asing yang selama ini menjadi penggerak investasi di pasar surat berharga baik itu pasar saham dan obligasi, tentu memilih untuk keluar dan menunggu kondisi politik Indonesia stabil. Namun demikian kondisi tersebut dipercaya tidak akan mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia untuk jangka panjang. Salah satu sektor yang dipercaya menjadi motor penggerak investor datang ke Indonesia di tahun 2010 adalah sektor batubara. Hingga akhir 2008, Indonesia tercatat sebagai produsen batubara terbesar ke enam di dunia, eksportir batubara terbesar kedua di dunia, dan eksportir batubara thermal terbesar dunia. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan pada 2010 produksi batubara Indonesia mampu mencapai 280 juta ton, lebih tinggi dari target pemerintah 250 juta ton. Sedangkan ekspor batubara bisa menyentuh angka 210 juta ton per tahun, jauh lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 175 juta ton. Menurut catatan Direktorat Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Indonesia, 78,3% dari total produksi batubara Indonesia dihasilkan oleh 6 perusahaan penambang batubara besar diantaranya PT. Bumi Resources, PT. Adaro Energy, PT. Kideco Jaya Agung, PT. Berau Coal, PT Indo Tambangraya Megah, dan PT Bukit Asam.

Prediksi GDP Indonesia oleh beberapa organisasi Nasional dan Internasional

No

Organisasi

Tanggal dikeluarkan

2009

2010

1.

Bank Indonesia

Maret 2009

3,5%

5%

2.

Institute of International Finance (IIF)

Juli 2009

4,5%

5,5%

3.

Pemerintah Indonesia

September 2009

4,5%

5,5%

4.

Asian Development Bank (ADB)

September 2009

4,3%

5,4%

5.

World Bank

September 2009

4,3%

5,4%

6.

Economist

Oktober 2009

4,2%

4,5%

7.

International Monetary Fund (IMF)

Oktober 2009

4%

4,8%

Categories: Knowledge Sharing
  1. dwi
    July 1, 2010 at 3:23 PM

    maakasi mas Muhammad, saya izin copy buat tugas kerja ya Mas,,,boleh ga?

  2. adi
    January 14, 2011 at 9:46 PM

    terima kasih sudah dikasih Sumber Data. klo ada sumbernya begini kan kelihatan ilmiah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: