Home > Published Articles > Menakar Dampak Krisis Hutang Eropa terhadap Prospek Investasi di Indonesia Semester ke II 2010 (Part 1)

Menakar Dampak Krisis Hutang Eropa terhadap Prospek Investasi di Indonesia Semester ke II 2010 (Part 1)

Oleh Muhammad Fikri STP, MBA (middle analyst PT BNI (Persero) Tbk), disiapkan untuk Banking and Management Magazine (edisi July-August 2010)

Sejak tahun 2000 hingga 2007, Yunani dikenal sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa, akibat meningkatnya investasi asing yang membanjiri Negara tersebut. Dalam kurun waktu 7 tahun itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi Yunani tumbuh sebesar 4,2% per tahun. Ekonomi yang kuat serta rendahnya yield obligasi pemerintah sebagai refleksi dari rendahnya “country risk” Yunani, memungkinkan pemerintah yunani berhutang dengan menerbitkan obligasi secara terus menerus guna membiayai sector publiknya. Hal ini berlajut setelah diluncurkannya Euro, dimana pemerintah Yunani mempunyai kesempatan untuk melakukan pinjaman dengan mata uang EURO yang bernilai tinggi dengan bunga yang rendah karena rendahnya “country risk” Yunani. Pembiayaan yang tidak terkendali membuat Yunani terperangkap pada ratio hutang terhadap produk domestic bruto (GDP) yang besar yaitu diatas 100% pada saat itu.

Pada tahun 2009, krisis subprime mortgage yang melanda dunia memberikan pukulan telak terhadap perekonomian Yunani, dua industri terbesar di Negara tersebut yaitu industri pelayaran serta pariwisata mengalami tekanan hebat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar 15% pada tahun 2009. Dalam upaya memastikan bahwa kondisi perekonomiannya masih terkendali, pemerintah yunani “membayar” beberapa bank krediturnya untuk menutupi nilai hutang yunani yang sesungguhnya. Hingga pada akhirnya rekayasa terhadap laporan keuangan yunani terbongkar, dan pada akhir tahun 2009 pemerintah George Papandreou merevisi defisit anggaran pemerintahnya menjadi 12.7% terhadap produk domestic bruto (GDP) dari sebelumnya 6%. Keterpurukan Yunani terus berlanjut, karena pada tanggal 27 April 2010, lembaga rating internasional Standard & Poor’s menurunkan rating hutang Yunani menjadi BB+ yang merupakan rating untuk “junk bond” dikarenakan tingginya kekhawatiran pasar terhadap ketidakmampuan Yunani untuk membayar hutangnya dan membeli kembali obligasinya. Penurunan rating hutang Yunani kemudian juga dilakukan oleh the Fitch dan Moody.

Setelah penurunan rating tersebut kondisi perekonomian Yunani terus memburuk, dimana pada bulan mei 2010, defisit anggaran pemerintah yunani melonjak menjadi 13.6%, dan merupakan defisit anggaran terbesar di dunia dengan rasio hutang terhadap GDP sebesar 115%.

Kondisi perekonomian Yunani yang morat marit pada akhirnya mendorong kekhawatiran pasar bahwa kondisi tersebut akan berimplikasi ke Negara lainnya di Eropa, terutama ke Eropa Selatan atau yang sering disebut dengan PIGS (Portugal, Italy, Greece and Spain). Perlu diketahui bahwa kelompok Negara tersebut memiliki kondisi perekonomian yang mirip, dimana rata-rata Negara tersebut memiliki rasio hutang terhadap PDB yang besar, serta terperangkap oleh defisit anggaran yang tinggi dalam membiayai sector publiknya. Kesamaan karakteristik inilah yang menjadi kekhawatiran pasar, karena hal ini mengingatkan pasar terhadap krisis Asia 1998 dimana krisis yang terjadi di Argentina, menjalar ke Thailand hingga ke Indonesia akibat adanya kesamaan karakter ekonomi ketiga Negara tersebut.

Hingga akhirnya, kekhawatiran pasar terhadap implikasi krisis hutang yunani ke Negara lainnya di Eropa menjadi kenyataan, karena seperti diberitakan Blommberg pada tanggal 29 May 2010, The fitch akhirnya menurunkan rating hutang Spanyol menjadi AA+ dengan outlook stabil. Penurunan rating hutang Spanyol dari AAA yang telah dipertahankan selama 7 tahun (sejak tahun 2003) menjadi AA+ pada tahun ini tentunya menandakan bahwa kondisi perekonomian spanyol menurun. Tidak hanya sampai di Spanyol, karena seminggu kemudian tepatnya pada 4 Juni 2010, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengatakan bahwa kondisi perekonomian Hungaria sedang berada pada kondisi yang sangat kritis “very grave situation”, akibat munculnya kekhawatiran akan defaultnya kredit perumahan di Hungaria. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadi trigger utama melemahnya EURO terhadap USD menjadi US$ 1.196 yang merupakan titik terendah EURO terhadap USD dalam 4 tahun terakhir (contd).

Categories: Published Articles
  1. sabrun
    November 21, 2010 at 1:41 AM

    Mas Fikri, part 2 nya mana? I would like to continue to read the other remaining parts…Is it published also in BNI’s magazine (Bank dan Manajemen)?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: