Home > Published Articles > Mewaspadai Bahaya Laten Hot Money

Mewaspadai Bahaya Laten Hot Money

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA

(Middle Analyst PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk)

Email : m.vickry@gmail.com

Phone : +62 813 2804 3661

 

Awal bulan November 2010, pasar finasial di seluruh dunia dikejutkan oleh langkah berani the Fed yang memutuskan untuk mengucurkan stimulus ke pasar sebesar 600 Milliar USD atau setara dengan Rp.5400 Triliun. Kebijakan the Fed yang dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE) tersebut dilakukan melalui mekanisme pembelian surat berharga pemerintah (US Treasury) yang dimiliki oleh berbagai Institusi di Amerika dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika. Perlu diketahui bahwa hingga kuarter ke III 2010 ekonomi Amerika terancam oleh tingginya angka pengangguran (9,6%) serta munculnya tanda-tanda deflasi, oleh karena itu the Fed memutuskan untuk melakukan Quantitative Easing dengan tujuan utama untuk menstabilkan harga dan mendorong pertumbuhan pekerjaan di Amerika. Lebih lanjut, The Fed menjelaskan akan melakukan pembelian US treasuri secara bertahap sebesar 75 Milliar USD perbulan hingga pertengahan tahun 2011.

Kebijakan yang dilakukan the Fed tersebut sejujurnya bukan yang pertama dilakukan, karena selama tahun 2009 lalu the Fed telah mengucurkan stimulus senilai 1.2 Triliun USD dimana Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membeli aset-aset busuk perbankan dan 300 Miliar USD untuk membeli US treasury. Awalnya, stimulus tersebut diharapkan dapat mendorong proses pemulihan ekonomi Amerika, namun pada kenyataannya dana bernilai milyaran USD tersebut masih belum cukup untuk memulihkan ekonomi Amerika sehingga memaksa the Fed kembali untuk mengeluarkan stimulus tahap keduanya tahun ini.

Pada perjalannya, Kebijakan Quantitative Easing tidak hanya dilakukan oleh the Fed karena bulan maret 2009, Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meluncurkan program stimulus ekonomi senilai 400 miliar Euro yang akan diterapkan hingga tahun 2011. Seperti tidak ingin kalah, pada agustus 2010 giliran Jepang yang mengumumkan kebijakan stimulus Ekonomi senilai 61 miliar USD. Baik Uni eropa dan jepang mempunyai tujuan yang sama dalam menggelontorkan stimulus tersebut yaitu untuk memperkuat kondisi ekonomi yang sedang lesu.

Aksi the Fed, Uni Eropa dan Jepang tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap negara lainnya di dunia khususnya di emerging market mengingat selama krisis emerging market telah menjadi penopang ekonomi dunia sehingga tidak jatuh lebih dalam. Tanda-tanda aliran dana tersebut masuk ke emerging market tercermin pada terus meningkatnya pasar finansial di emerging market sejauh ini. Derasnya aliran modal investor global ke pasar finasial di emerging market terjadi karena suku bunga dolar AS, Euro dan yen sangat rendah dan diperkirakan akan tetap rendah hingga 2011 mengingat ekonomi negara-negara tersebut masih rapuh. Kenyataan tersebut pada akhirnya mendorong investor global untuk memindahkan investasinya di pasar finansial di negara dengan kriteria tertentu.

Kriteria negara seperti apa? Yaitu negara yang pertumbuhan ekonominya pesat  dan negara yang suku bunganya tinggi sehingga spekulator bisa meminjam dolar dan memarkir dana tersebut di surat utang negara (SUN) yang imbal hasilnya tinggi. Kriteria tersebut secara langsung menunjuk Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi investor global. Diluar kriteria tersebut, positifnya pandangan berbagai institusi internasional dunia terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga telah menjadi trigger utama masifnya capital inflow ke Indonesia.

Seperti diketahui pada Januari 2010 the Fitch Ratings meningkatkan rating Indonesia menjadi satu tingkat dibawah level layak investasi (investment grade), hal yang sama juga dilakukan oleh Standard & Poor’s pada Maret 2010 yang menaikkan rating utang Indonesia dua tingkat dibawah investment grade. Dan seperti tidak ingin kalah, pada Juni 2010, Moody’s Investors Service juga menaikkan peringkat utang Indonesia dari outlook stabil menjadi positif dengan rating Ba2.

Masih dibulan juli 2010, IMF merilis laporannya yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara G-20 dengan investment return yang paling tinggi, mengingat tingkat suku bunga  Indonesia merupakan yang tertinggi di G-20. IMF menyebutkan spread antar bunga pinjaman dan bunga deposito Indonesia adalah tertinggi ke dua di G-20 setelah rusia, hal tersebut menarik minat investor untuk masuk ke Indonesia khususnya ke sektor perbankan. Setelah IMF giliran World Economic Forum (WEF) yang memberikan pandangannya terhadap Indonesia. Berdasarkan laporan yang dirilisnya bulan September, WEF mencatatkan Indonesia sebagai Negara dengan kenaikan Indeks daya saing paling impresif di dunia. Dalam laporannya, indeks daya saing Indonesia 2010 naik 10 tingkat ke posisi 44 dari 139 negara. Peningkatan tersebut didorong oleh semakin membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia serta meningkatnya indikator pendidikan Indonesia. Lebih lanjut, WEF menyebutkan bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan kondisi ekonominya tetap sehat selama masa krisis 2008. Seperti diketahui hutang Indonesia tercatat sebesar 27% dari total GDP, hal tersebut mencerminkan resiko hutang Indonesia yang kecil. Rendahnya default risk terhadap obligasi yang diterbitkan Indonesia mendorong investor untuk berinvestasi di surat berharga yang diterbitkan Indonesia.

Yang terakhir giliran UK Trade & Investment (UKTI) yang memberikan pandangannya terhadap Ekonomi Indonesia. Perlu diketahui bahwa UKTI merupakan acuan investor di UK dalam berinvestasi. Dalam laporannya yang dirilis pertengahan september lalu, UKTI menyebutkan bahwa Indonesia adalah Negara tujuan investasi pilihan investor ke empat dunia setelah China, Vietnam dan India. UKTI bahkan mengidentifikasi Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan jangka panjang yang paling tinggi di dunia.

5 Negara Dengan Prediksi Pertumbuhan GDP Tertinggi Periode 2010-2030 (Miliar USD)

Negara 2010 2030 Pertumbuhan
India 4.108 28.415 592%
China 10.020 58.998 489%
Mesir 500 2.928 486%
Indonesia 1.028 5.634 448%
Vietnam 276 1.507 446%

Source: Economist Intelligence Unit.

Secara lansung pandangan institusi dunia tersebut telah mengarahkan investor untuk memilih Indonesia sebagai tujuan investasi sehingga mendorong massivenya capital inflow. Diluar pandangan tersebut, positifnya laporan keuangan emiten bursa pada semester I/2010 yang rata-rata mencatatkan pertumbuhan penjualan diatas 30% juga menjadi jawaban bahwa pandangan dari berbagai institusi keuangan dunia tersebut tidak salah.

Penguatan Rupiah dan Langkah antisipasi BI

Derasnya capital inflow yang masuk ke pasar finansial Indonesia terbagi dalam tiga instumen yaitu SUN, SBI, dan saham, dimana dalam 9 bulan pertama 2010, dana asing berbentuk hot money yang masuk ke Indonesia sebesar Rp115 triliun, dengan penjabaran 64% masuk ke SUN, 18% ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan 18% ke saham. Bila ditelusuri lebih dalam, Rp.20 Triliun dari hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kenaikan yang signifikan terhadap IHSG dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia.

Terus meningkatnya harga saham di bursa Indonesia sejauh ini juga telah menjadikan bursa saham indonesia sebagai bursa dengan kapitalisasi terbesar ke 6 diantara emerging country, setelah China, India, Brazil, Mexico dan Rusia. Pesatnya peningkatan kapitalisasi bursa indonesia ini juga didorong oleh banyaknya aksi korporasi emiten indonesia seperti IPO dan right issue seiring dengan derasnya capital inflow sebagai dampak dari kebijakan the Fed yang terus membanjiri pasar dengan USD.

Membanjirnya capital inflow kedalam negeri tidak hanya mengangkat bursa Indonesia mencapai level tertingginya dalam sejarah tapi juga memberikan pengaruh langsung pada Rupiah mengingat penguatan Rupiah sangat berkaitan dengan penguatan yang terjadi pada bursa saham dan surat utang Indonesia. Semakin besarnya dana asing yang masuk ke SUN dan saham maka semakin cepat pula penguatan rupiah. Hal ini terlihat pada pergerakan rupiah dalam dua tahun terakhir dimana Ibarat tak terbendung, rupiah terus menguat dari 11.120 per dolar AS pada akhir 2008 ke 9.400 di akhir 2009 dan 8.920 pada Oktober 2010 hingga akhirnya menembus level dibawah 8.900 pada awal november 2010.

Namun demikian, bagi Indonesia yang ekonominya tidak tergantung pada ekspor, penguatan mata uang rupiah, selama tidak tajam, masih berdampak positif. Perlu diketahui bahwa di Indonesia sekitar 70% dari produk domestik bruto (PDB) digerakkan oleh konsumsi domestik, 20% oleh investasi sedangkan net-ekspor hanya menggerakan 10% dari PDB. Penguatan rupiah pada dasarnya mampu menahan inflasi khususnya pada barang impor yang artinya menghambat kenaikan suku bunga sehingga tidak memperngaruhi daya beli masyarakat.

Selain itu, data BPS menyebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia selama periode Agustus 2010 mampu mencapai level tertingginya sepanjang sejarah yaitu pada level 13,71 miliar USD, dan apabila dibandingkan dengan nilai ekspor dibulan yang sama pada tahun 2009, nilainya tercatat tumbuh sebesar 30%. Kenaikan ekspor yang signifikan tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah masih belum memberikan dampak negatif langsung terhadap eksportir. Hanya saja, itu bukan berarti BI boleh lepas tangan terhadap penguatan rupiah karena apabila BI membiarkan rupiah menguat terus menerus maka nilai cadangan devisa BI berdenominasi rupiah akan merosot tajam dimana hal ini tentu tidak diinginkan oleh bank sentral manapun diseluruh dunia.

Oleh karena itu untuk menghambat penguatan rupiah secara signifikan, Bank Indonesia sebagai regulator melakukan intervensi di pasar uang, dengan menjual rupiah dan membeli dolar. Sejauh ini, peran BI masih cukup kuat untuk menghambat penguatan rupiah, hanya saja adanya kebijakan stimulus tahap ke dua the Fed menimbulkan pertanyaan tersendiri di pasar yaitu seberapa banyakkah amunisi yang dimiliki oleh BI untuk mampu memperlambat penguatan rupiah. Pertanyaan ini seakan terjawab karena pada awal november ini, nilai tengah Rupiah telah menembus level 8900, suatu level yang telah dipertahankan BI sejauh ini.

Lebih lanjut, langkah intervensi yang dilakukan BI ke pasar bukan tanpa masalah karena kebijakan tersebut akan membuat cadangan devisa BI dalam USD meningkat secara signifikan dan akan menjadi masalah besar seandainya USD kembali menguat. Disisi lain, intervensi pembelian dolar yang agresif juga berimplikasi pada penyuntikan dana rupiah secara besar-besaran ke sistem ekonomi dan mendorong peningkatan signifikan terhadap jumlah rupiah yang beredar dipasar dimana apabila dana ini tidak diserap oleh sektor real, akan berpotensi memicu inflasi.

Untuk itu, dalam meredam potensi kenaikan inflasi, BI harus melakukan ‘sterilisasi’ dengan tujuan menyerap kembali ekses likuiditas rupiah dengan melakukan operasi pasar terbuka (OPT) melalui mekanisme penjualan SBI. Tercatat hingga akhir september 2010 BI telah melelang SBI senilai Rp. 251,8 triliun. Namun demikian aksi lelang SBI ini memberikan konsekuensi tersendiri bagi BI dimana BI harus membayar beban bunga yang cukup besar atas SBI yang diterbitkannya. Paling tidak BI harus membayar minimal 6,5% per tahun sesuai dengan BI Rate saat ini, sedangkan cadangan devisa BI yang berbentuk dolar AS dan dibelikan SUN AS bertenor 5 tahun hanya memberikan imbal hasil sebesar 1,8%. Sehingga dalam contoh ini ada negative carry (kerugian) sebesar 4,7% yang tentunya tidak diinginkan oleh BI. Oleh karena itu bagai buah simalakama setiap kebijakan yang diambil oleh BI guna meredam dampak langsung derasnya capital inflow membuka konsekuensi baru bagi BI dari sisi lain, namun demikian sebagai pengawas tertinggi moneter nasional BI harus siap at all cost menjaga stabilitas moneter nasional.

Waspadai Capital Outflow

Selain penguatan yang signifikan terhadap rupiah, derasnya capital inflow memberikan kekhawatiran tersendiri bagi sektor moneter Indonesia khususnya pasar modal. Penguatan signifikan yang terjadi pada pasar modal Indonesia yang dipicu oleh aliran hot money asing perlu diwaspadai oleh pemerintah mengingat capital inflow tersebut sewaktu-waktu dapat berbalik menjadi capital outflow atau sudden reversal jika sentimen pasar berbalik tajam. Bahkan the Fitch rating memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini dengan mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara paling berisiko ketiga di Asia akibat hot money. the Fitch melihat bahwa kebijakan QE dari the Fed akan menciptakan capital inflow yang masif ke Indonesia sebagai salah satu emerging market terbaik di Asia sehingga risiko terjadinya capital outflow pun akan semakin tinggi dan dapat terjadi kapan saja. Walaupun, sejauh ini Bank Indonesia cukup baik dalam mengelola capital inflow dengan menerapkan kebijakan one month holding SBI dan mulai menggiring dana bank yang menganggur supaya bisa ditempatkan di term deposit. Namun semakin derasnya capital inflow membuat BI harus memutar otak lebih keras dalam mengelola hot money tersebut sehingga tidak memberikan dampak negatif pada sistem perekonomian Indonesia.

Untuk memperlambat derasnya arus modal asing ke Indonesia, banyak pihak yang mendorong pemerintah untuk menerapkan capital control terhadap aliran hot money tersebut, tapi perlu dicatat bahwa saat ini telah terjadi pergeseran dana investor global secara fundamental yaitu dari negara maju ke negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat. Pergeseran ini sangat kuat sehingga capital control sekalipun tidak akan efektif dalam menghambat aliran modal ini. Dalam hal ini Capital control hanya bisa ‘membelokkan’ arus modal asing ini, misalnya dari SBI ke saham, tetapi tidak bisa memhentikannya, apa lagi jika fundamental ekonomi Indonesia terus tumbuh seperti saat ini. Disamping itu kebijakan capital control bagi hot money tersebut dapat menjadi bumerang bagi Indonesia, mengingat hal tersebut dapat menjadi sentimen buruk bagi investor global dan justru menjadi pemicu terjadinya capital outflow seperti yang pernah dialami oleh Thailand. Belajar dari pengalaman Thailand, dimana pada akhir 2006, Thailand mencoba mengerem hot money yang masuk dengan cara melakukan capital control. Dampaknya terjadi kekhawatiran dikalangan investor asing sehingga dalam waktu satu hari saja kapitalisasi 20 perusahaan besar di Thailand turun tajam dipasar modal. Pada akhirnya Thailand pun mengubah policy-nya. Untuk itu sejauh ini, kebijakan fiskal dengan memberlakukan capital control dinilai belum dapat dilakukan. Karena jika penerapannya dilakukan dengan kurang hati-hati, maka capital market juga akan turun.

Disamping itu Undang-undang (UU) Bank Indonesia (BI) menganut sistem capital free flow,artinya aliran dana asing bebas masuk dan keluar kapan saja. Hal ini membuat pemerintah sulit untuk mengatur arus dana asing yang masuk (capital inflow) ke pasar modal karena kalau pemerintah membatasi hal itu artinya bertentangan dengan UU. Lagipula sejauh ini kepemilikan asing di pasar modal Indonesia sekitar 66 persen sampai 67 persen. Nilai  tersebut belum banyak berubah dibanding posisi 3 tahun terakhir yang berkisar antara 67 persen-68 persen artinya pertumbuhan kapitalisasi pasar modal indonesia yang didorong oleh derasnya capital inflow masih mampu diimbangi oleh pertumbuhan jumlah investor domestik dimana hal ini tentu baik untuk pasar modal Indonesia.

Namun demikian bukan berarti perintah tidak mempunyai senjata untuk meredam dampak dari hot money terhadap sektor pasar modal Indonesia karena dalam hal ini pemerintah dapat menahan terjadinya capital outflow dengan menyerap arus modal asing ke sektor real. Dalam hal ini pemerintah dapat mendorong perusahaan melakukan aksi korporasi seperti right issue, Initial Public offering (IPO), dan penerbitan obligasi untuk membiayai capital expenditurnya. Aksi tersebut diharapkan dapat menahan hot money bertahan lebih lama di Indonesia. Disisi lain Aksi korporasi perusahaan dalam negeri tersebut dapat memperbesar porsi investor domestik di pasar modal. Sejauh ini dorongan pemerintah tersebut disikapi positif oleh perusahaan dimana menurut catatan Bapepam-LK, pada kuartal ke IV-2010, sebanyak 12 calon emiten akan IPO dengan target perolehan dana senilai Rp 23 triliun, lima perusahan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 10 triliun, dan lima perusahaan akan right issue senilai Rp 14,55 triliun. Total dana dari aksi korporasi itu mencapai Rp 48 triliun.  Aksi korporasi ini diharapkan dapat meredam risiko terjadinya capital outflow dalam jumlah besar.

Disamping mendorong perusahaan Indonesia melakukan aksi korporasinya, pemerintah juga dapat mengimplementasikan kebijakan penerapan pajak seperti yang telah dilakukan Brazil. Namun perlu dicatat, penerapan pajak tersebut tidak bisa diterapkan dengan pola yang berkelanjutan, dalam arti pemberian pajak ini hanya dikenakan sekali. Karena penerapan pajak yang berkelanjutan dapat berdampak pada menurunnya minat investasi investor asing di Indonesia.

Derasnya capital inflow ke Indonesia sejauh ini tidak dapat dihindari mengingat kenyataan ekonomi Indonesia yang selama krisis global tetap mampu tumbuh. disisi lain fakta bahwa tingginya imbal hasil investasi dalam rupiah dibandingkan mata uang lainnya menjadi pemanis tersendiri bagi Indonesia dimata investor global. Pada akhirnya pemerintah harus bersikap bijak dalam mengelola derasnya capital inflow ke Indonesia tersebut. Dalam hal ini pemerintah harus pandai mengelola dana tersebut, sehingga dana-dana asing yang mengalir secara deras ke Indonesia tersebut tidak hanya berputar- putar di sektor moneter yang bisa berekses pada inflasi, tetapi juga mengalir ke sektor real yang bermanfaat untuk penciptaan lapangan kerja.

Bila derasnya capital inflow ini tidak dimanfaatkan dengan bijak, maka dana asing tersebut benar-benar akan menjadi ancaman serius bagi negara ini. Namun demikian juga sebaliknya, bila pemerintah dapat memanfaatkannya dengan baik dan benar, maka akan membawa berkah dan keberuntungan bagi perekonomian negara ini, khususnya masyarakat luas.

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA

(Middle Analyst PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk)

Email : m.vickry@gmail.com

Phone : +62 813 2804 3661

Categories: Published Articles
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: