Home > Published Articles > Mewaspadai Arus Balik Modal Asing Seiring Berakhirnya Quantitative Easing The Fed

Mewaspadai Arus Balik Modal Asing Seiring Berakhirnya Quantitative Easing The Fed

Oleh : Muhammad Fikri, STP, MBA
Email: m.vickry@gmail.com
Phone : +62 813 2804 3661
(Tulisan ini telah dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen Edisi Juli-Agustus 2011)

Pada tanggal 3 November 2010, the Federal Open Market Committee atau FOMC memutuskan untuk mengucurkan stimulus sebesar 600 Milliar USD atau setara dengan Rp 5,400 Triliun dengan tujuan untuk membiayai defisit anggaran AS. Kebijakan the Fed yang dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE) tersebut dilakukan melalui mekanisme pembelian surat berharga pemerintah atau lebih dikenal dengan US Treasury yang dimiliki oleh berbagai Institusi di Amerika. Dalam pelaksanaannya The Fed melakukan pembelian bertahap sebesar 75 Milliar USD perbulan hingga bulan Juni 2011. Federal Reserve Chairman Ben Bernanke mengatakan stimulus tambahan senilai 600 Milliar USD tersebut dibutuhkan karena tingkat inflasi masih terlalu rendah dan tingkat pengangguran terlalu tinggi di Amerika.

Kebijakan The Fed tersebut bukan yang pertama kalinya dilakukan, mengingat sebelumnya pada tanggal 18 Maret 2009 the Fed telah melakukan quantitative easing tahap pertama sebesar  1.7 trilliun USD, yang ditujukan untuk membeli mortgage-backed securities default  dalam rangka upaya penyelamatan  sektor properti di Amerika sebagai akibat dari krisis Subprime Mortgage. Program QE tahap 1 dari the Fed tersebut berlangsung selama setahun hingga maret 2010.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa selama kurun waktu hampir 2 tahun tersebut, The Fed telah mencetak dan mengucurkan uang miliaran USD kepasar dan telah mendorong peningkatan terhadap harga instrumen-instrumen investasi seperti obligasi, emas, saham, serta komoditas diseluruh dunia. Namun demikian, memasuki pertengahan 2011 atau seiring dengan berakhirnya program Quantitative Easing, Investor mulai was-was terhadap dampak dari berakhirnya program stimulus the Fed tersebut. Kondisi tersebut mendorong Investor untuk menyesuaikan portofolio investasinya dari instrumen jangka panjang ke instrumen jangka pendek guna mengantisipasi dampak berkurangnya sumber likuiditas dipasar. Kekhawatiran tersebut terlihat dari terus menurunnya bursa utama Amerika memasuki minggu pertama bulan Juni dimana investor mulai bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi apabila the Fed tidak lagi membeli surat hutang negara AS?”

Perlu diketahui bahwa perubahan dalam kebijakan bank sentral AS adalah peristiwa penting yang bisa membuat investor panik. Secara sederhana, aksi the Fed yang selama ini telah menyuntikkan sekitar 4 milyar USD setiap hari ke pasar AS sejak November 2010 tidak dipungkiri telah menjadi sumber likuiditas di pasar modal dan telah mendorong penguatan pasar modal tidak hanya di Amerika tapi juga dibelahan dunia lainnya.

 4 milyar USD atau hampir 35 trilyun rupiah perhari adalah jumlah uang yang sungguh besar. Oleh karena itu dengan berakhirnya program pelonggaran moneter dari bank sentral AS tersebut, pasar harus berusaha bertahan dengan likuiditas yang berkurang drastis. Dampak langsung dari program Quantitative Easing tersebut secara langsung dapat terlihat pada pergerakan Bursa utama AS dalam 3 tahun terakhir, seperti terlihat pada grafik dibawah ini.

Pergerakan bursa utama AS terhadap kebijakan program QE tahap 1 & 2

Dengan memperhatikan gambar diatas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat suatu hubungan yang erat antara pergerakan bursa saham AS dengan kebijakan the fed baik QE1 maupun QE2. Dengan kata lain, jika program quantitative easing atau pencetakan uang benar-benar berakhir dalam waktu dekat, dimana likuiditas yang sebelumnya menjadi bahan bakar untuk penguatan bursa saham tiba-tiba lenyap maka dipercaya pasar saham utama AS akan mengalami tekanan hebat. Seperti dapat dilihat pada gambar diatas, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun lalu ketika memasuki masa akhir quantitative easing tahap pertama dimana selama bulan April hingga  bulan Agustus, The Fed telah membiarkan neracanya menyusut dari 1.207 trilliun USD ke 1.057 trilliun USDInilah sebuah kontraksi sebesar 12% pada waktu QE1 berakhir dan sebagai dampaknya pada periode tersebut bursa utama AS turun cukup signifikan.

Kondisi penurunan tersebut tidak hanya terjadi di bursa AS, mengingat pada umum nya bursa saham dibelahan dunia manapun tidak akan menyukai pengurangan atau pengetatan likuiditas. Kejatuhan pasar saham selama berhentinya program QE dari the Fed juga terjadi di Indonesia seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Pergerakan Indeks Dowjones dan IHSG Terhadap Kebijakan Program QE Tahap 1 & 2

Kejatuhan bursa saham Indonesia yang terjadi seiring jatuhnya bursa saham Amerika, tidak mengherankan pelaku pasar, mengingat 65% dari modal yang beredar di bursa saham Indonesia dikuasai oleh asing. Dan perlu diketahui bahwa Indonesia selama kurun waktu 2 tahun ini telah kelimpahan capital inflow dalam jumlah yang sangat besar walaupun tidak semuanya berasal dari Amerika serikat.

 Indonesia Tujuan “Capital Inflow”

Menurut IMF, dalam kurun waktu 1 tahun terakhir tercatat 800 miliar USD capital inflow telah masuk ke emerging market dimana kurang lebih 400 miliar USD dari dana tersebut masuk ke pasar Asia sedangkan 15 miliar USD masuk ke pasar financial Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia telah ketiban durian runtuh dari program stimulus yang dilakukan oleh negara-negara besar di dunia. bahkan Indonesia seakan mempunyai magnet yang sangat kuat untuk menarik dana asing tersebut masuk ke Indonesia. Tercatat hingga bulan juni 2011, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) telah meningkat 20% bila dibandingkan dengan posisi januari 2011. sementara posisi asing pada sertifikat bank Indonesia (SBI) per juni 2011 telah meningkat 13% dibanding posisi awal tahun 2011. Tidak hanya pasar SBI dan SUN karena pasar saham Indonesia juga kecipratan dana asing tersebut, dimana tercatat sejak awal 2011 hingga akhir juni 2011, net buy asing dipasar saham  telah mencapai Rp 16.7 Triliun.

 Potret Dana Asing Pada Instrumen Investasi di Indonesia

Instrumen

Desember 2010

Juni 2010

Capital Inflow

Surat Utang Negara (SUN)

Rp. 195,7 Triliun

Rp. 234,2 Triliun

Rp. 38,5 Triliun

Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Rp. 54,9 Triliun

Rp. 62 Triliun

Rp.7.1 Triliun

Net Buy Asing di Pasar Saham

Rp. 16.7 Triliun

Sumber: BI, BEI, Dirjen Pengelolaan Utang Indonesia

Mengenai derasnya capital inflow ke Indonesia, Reuters menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling banyak mendapat limpahan capital inflow akhir-akhir ini. dalam minggu pertama juni 2011 saja Indonesia telah kecipratan 61.5 juta USD, sedangkan kondisi sebaliknya terjadi di Filipina dan Thailand dimana kedua negara tersebut justru mengalami aliran dana keluar  masing-masing senilai 1 juta USD dan 20 juta USD.

Semakin meningkatnya kepemilikan asing pada instrumen investasi Indonesia tentunya meningkatkan resiko terjadinya sudden reversal, yang dapat menekan sektor moneter Indonesia. Bahkan the Fitch rating memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini dengan mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara paling berisiko ketiga di Asia akibat hot money. the Fitch melihat bahwa kebijakan QE dari the Fed telah menciptakan capital inflow yang masif ke Indonesia sebagai salah satu emerging market terbaik di Asia sehingga risiko terjadinya capital outflow pun akan semakin tinggi dan dapat terjadi kapan saja.

 Dampak Stimulus The Fed terhadap USD dan Emas

Tidak hanya mendorong penguatan bursa, Quantitative Easing juga telah menjadi penyebab terus melemahnya mata uang US dollar terhadap mata uang lainnya. Banyak analis yang mempercayai bahwa upaya AS sebagai eksportir terbesar dunia untuk terus memperlemah nilai mata uang USD nya bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk AS di pasar internasional sehingga mendorong penjualan perusahaan terutama para eksportir Amerika. Kondisi tersebut dapat mendorong peningkatan kinerja perusahaan di Amerika dan menjadi potensi pembukaan lapangan kerja baru di AS.

Namun demikian, The Fed dipercaya tidak akan mendorong pelemahan US dollar secara terus menerus mengingat pelemahan US dollar secara terus menerus akan membuat nilai mata uang ini tidak berharga lagi dan penggunaannya sebagai mata uang untuk perdagangan internasional akan tergantikan. Dalam hal ini China dengan Yuan nya telah berancang-ancang untuk mengambil posisi USD sebagai mata uang dalam perdagangan internasional. Mata uang Yuan yang dipatok fixed, tentunya dapat menjadi kekuatan tersendiri disamping posisi China sebagai salah satu eksportir dan importir terbesar di dunia. Dengan kondisi tersebut negara counterpart perdagangan China tentunya akan menyukai penggunaan Yuan yang lebih stabil dibanding USD. Melihat kondisi ini, untuk sementara waktu tentunya The Fed akan berpikir ulang untuk meneruskan program Quantitative Easing setidaknya untuk beberapa bulan kedepan sambil melihat apakah QE 2 telah memberikan perubahan berarti bagi perekonomian AS.

Jika the Fed benar-benar menghentikan pencetakan uang untuk membiayai defisit anggaran pada bulan Juni, kemungkinan besar US dollar akan bangkit lagi.  Mengapa demikian?  Karena investor institusi yang memiliki dana pengelolaan besar akan mengatakan bahwa dolar AS kembali aman untuk dipegang menyusul pencetakan dollar tidak dilanjutkan. Semenjak program QE 1 dan 2 diumumkan sebagian besar investor telah menjual dolar AS untuk memakainya dalam carry trade, dan hampir semua pelaku pasar menyetujui tren USD saat itu adalah sangat bearish. Selama periode QE1 dan QE2, boleh dikatakan bahwa sentimen buruk terhadap US dollar agak ekstrem dimana tergambar dalam pergerakan nilainya seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Pergerakan Index USD dan Index Emas

Saat ini dapat dikatakan bahwa dolar AS sudah sangat oversold (investor melepas USD secara massive). Berarti setiap saat bisa terjadi sebuah pembalikan tren secara tidak terduga, terutama terhadap currencies yang telah mengalami penguatan yang signifikan terhadap dolar AS dan juga negara yang memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada the Fed Rate, seperti Aussie dollar, euro dan pound sterling.

Seperti kita telah bahas sebelumnya, perubahan dalam kebijakan the Fed yang akan mengurangi pelonggaran moneter kedepan dapat menopang dolar AS.  Dan rebound US dollar tersebut berpotensi menyebabkan pelemahan yang cukup signifikan di sektor komoditas diantaranya akan menekan harga emas. Seperti terlihat digambar diatas bahwa USD mempunyai hubungan berbanding terbalik dengan emas. Indikasi bahwa the Fed sementara waktu tidak akan melanjutkan program quantitaive easing, akan mendorong penguatan USD dimana investor akan cenderung melepas emas yang selama ini telah menguat tajam dan memilih USD yang dikenal dikalangan investor sebagai save heaven.

 AKANKAH QUANTITATIVE EASING TAHAP 3 DILAKUKAN

QE sebetulnya merupakan sebuah istilah yang keren untuk suatu tindakan yang sangat sederhana yaitu Mencetak Uang.  Menyusul berakhirnya quantitative easing tahap 2, bank sentral AS kemungkinan besar tidak akan langsung melanjutkannya dengan QE3.  Oleh karena itu bursa saham dan pasar emas dapat mengalami koreksi yang besar, sedangkan US dollar dan obligasi pemerintah AS tiba-tiba bisa menguat.

Mengenai kelanjutan Quantitative easing tahap 3, tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan the Fed akan mengisyaratkan stimulus tambahan. Namun perlu diketahui bahwa QE3 tidak akan diterapkan sampai bank sentral AS mempunyai dasar yang kuat untuk melakukannya. Berikut beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar oleh the Fed sebagai legitimasi untuk meneruskan quantitative easing tahap selanjutnya:

  • Seperti kita ketahui bahwa tujuan dari quantitative easing 1 dan 2 adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika dan mengurangi angka pengangguran. Namun demikian, masih memburuknya ekonomi Amerika dapat menjadi alasan yang kuat bagi the Fed untuk kembali melakukan stimulus ekonomi seperti terlihat pada kondisi makro dan mikro ekonomi AS dalam kurun waktu 2 tahun terakhir dibawah ini.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA (%) PERTUMBUHAN EKONOMI AMERIKA (%)

  •  Dari informasi diatas, maka dapat dikatakan bahwa angka pengangguran di Amerika sudah mulai menurun namun unemployment rate tersebut masih bergerak labil, dimana memasuki bulan juni 2011 angka tersebut kembali merangsek naik. Sedangkan dari sisi pertumbuhan ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pada triwulan 1 2011 ekonomi Amerika kembali mengalami fase perlambatan. The Fed sendiri merevisi negatif target pertumbuhan ekonomi AS untuk 2011 dari 3,1%-3,3% menjadi 2,7%-2,9%. Kondisi tersebut menjelaskan bahwa program quantitative easing yang telah dilakukan the Fed masih belum berhasil memicu ekonomi Amerika sehingga tidak akan mengherankan apabila The Fed kembali meneruskan program quantitative easing nya.
  • Seperti terlihat pada gambar dibawah ini, mengenai perkembangan defisit neraca perdagangan Amerika. maka dapat disimpulkan bahwa defisit neraca perdagangan Amerika untuk bulan Juni 2011 melorot 6,7% menjadi 43,7 miliar USD. Ini merupakan defisit yang terendah sejak Desember lalu (4 bulan terakhir).

DEFISIT NERACA PERDAGANGAN AMERIKA (Juta USD)

  • Sejumlah faktor mempengaruhi penurunan angka defisit tersebut. Di antaranya tingkat ekspor yang menembus rekor serta penurunan pembelian minyak. Namun demikian, dalam enam bulan pertama tahun fiskal 2011, defisit anggaran AS justru membengkak 15,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). kondisi tersebut akan mendorong pemerintah AS untuk menerbitkan surat hutang guna membiayai defisit anggarannya. Namun demikian melihat kondisi China dan Jepang (2 negara pemegang surat hutang terbesar AS) maka besar kemungkinan surat hutang yang diterbitkan AS tidak akan mampu diserap oleh kedua negara tersebut. Seperti kita ketahui untuk pertama kalinya dalam 7 athun terakhir China menderita defisit perdagangan dalam kuartal pertama 2011 sedangkan Jepang membutuhkan banyak dana untuk membangun kembali daerah yang terkena tsunami. Melihat kondisi tersebut maka besar kemungkinan The Fed kembali akan mencetak uang baru guna menyerap surat hutang AS tersebut.
  • Kekhawatiran terbesar dari dampak program QE yang dilakukan oleh Amerika adalah bahaya inflasi, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

TINGKAT INFLASI DI AMERIKA (%)

  •  Selama diluncurkannya QE2 awal november 2010 hingga saat ini, Inflasi di Amerika terus naik bahkan mencapai angka tertingginya pada bulan juni ini. kondisi tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan khusus bagi The Fed untuk sementara waktu tidak melanjutkan program QE tahap 3. Seperti pernah dikatakan oleh Federal Reserve Chairman Ben Bernanke bahwa stimulus akan dibutuhkan oleh Amerika selama tingkat inflasi masih rendah dan tingkat pengangguran masih tinggi. Dengan demikian, melihat angka inflasi mei 2011 maka The Fed dipercaya tidak akan melakukan QE paling tidak hingga inflasi di Amerika kembali turun.

Sekali lagi tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan the Fed akan mengeluarkan stimulus tambahan. Namun demikian sebagai investor yang bijak maka tidaklah salah apabila saat ini mengurangi portfolio di aset-aset beresiko sambil menunggu penerapan QE yang berikutnya. Mengapa demikian?  Karena seperti halnya dengan QE1 dan QE2, maka QE3 kembali akan menjadi motor untuk mendokrak harga berbagai aset investasi seperti saham, komoditas dan emas.

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA
Categories: Published Articles
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: