Home > Published Articles > Peluang Indonesia Ditengah Badai Krisis Utang Amerika dan Eropa

Peluang Indonesia Ditengah Badai Krisis Utang Amerika dan Eropa

Oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA
Email : m.vickry@gmail.com
Phone :+62 813 2804 3661
(Tulisan ini akan dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen Edisi September-Oktober 2011)

Drama Krisis Utang Amerika dan Eropa

Drama krisis utang Amerika Serikat (AS) yang menimbulkan kekhawatiran akan default seakan berakhir ketika 12 jam sebelum jatuh temponya tanggal 2 Agustus 2011, Presiden Barack Obama menandatangani sebuah legislasi, yaitu hasil kompromi Partai Demokrat dan Republik bahwa dalam sepuluh tahun ke depan pemerintah AS harus mampu mengurangi defisit anggaran sebesar US$ 2,4 triliun. Pemerintah AS juga mencapai kesepakatan dengan para kreditornya yaitu Rusia, Jepang, dan China, terkait utang sebesar US$ 14.3 trilyun (GDP US$ 14.6) yang sebagian diantaranya jatuh tempo pada 2 Agustus 2011. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, AS tidak membayar utang yang jatuh tempo tersebut menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan utang baru lagi, yaitu sebesar US$ 2.1 trilun setelah mayoritas anggota senat AS menyetujui kenaikan pagu hutang Amerika.  Utang baru sebesar US$ 2.1 trilyun tersebut akan jatuh tempo dalam 10 tahun ke depan, dan akan dibayar menggunakan uang sebesar US$ 2.4 trilyun yang akan diperoleh dari penghematan anggaran belanja negara.

Spekulasi penyeleseian utang AS tersebut pada akhirnya menaikkan kepercayaan investor yang sebelumnya ragu dengan kemampuan ekonomi AS dalam membayar hutangnya. Optimisme semu pasar juga didukung oleh langkah the Fitch rating dan the Moodys yang mempertahankan rating utang AS pada level tertinggi, yaitu AAA walaupun The Fitch dan Moodys sendiri sesungguhnya prihatin dengan realisasi kinerja ekonomi AS pada semester I/2011, dimana realisasi pertumbuhan ekonomi amerika jauh dari harapan padahal pertumbuhan ekonomi sangat penting untuk menstabilkan rasio utang sebuah negara. Seperti diketahui, realisasi Gross Domestik Product (GDP) AS sama sekali tidak memberikan harapan pada investor, dimana  untuk semester I/2011 hanya naik 1,3% dalam basis tahunan, sementara pertumbuhan dalam kuartal pertama turun tajam menjadi 0,4%. Berikut digambarkan kondisi ekonomi AS sepanjang tahun 2010-2011.

Sumber: kontan 2011

Diluar data tersebut diatas, perlu diketahui bahwa saat ini rasio utang AS terhadap GDP telah mencapai  97,9%, The Fitch dan Moodys bahkan mengatakan bahwa tanpa perubahan fiskal yang signifikan rasio utang Amerika Serikat terhadap produk domestik bruto akan mencapai 100% pada akhir 2012 mendatang dan akan terus meningkat.

Spekulasi terkait utang Amerika akhirnya menjadi jelas ketika lembaga rating S&P untuk pertama kalinya dalam sejarah, menurunkan peringkat utang Amerika Serikat dari peringkat tertinggi AAA menjadi AA+. Berbeda halnya dengan rating yang dikeluarkan oleh The Fitch dan Moody’s  yang dianggap berbau politis, rating yang dikeluarkan oleh S&P dinilai pasar sebagai rating yang mencerminkan kondisi Amerika Serikat yang sesungguhnya saat ini.

Dramatis, karena sejak diperoleh pada 1941, Amerika Serikat selalu menggenggam predikat sebagai negara paling aman untuk berinvestasi. Penurunan peringkat oleh lembaga ternama S&P tersebut, secara teoritis menunjukkan bahwa memegang surat utang Amerika Serikat saat ini kurang prestisius dibandingkan negara pemegang predikat AAA lainnya, seperti Jerman, Francis dan Kanada.

Downgrade rating AS tersebut tentunya akan berimplikasi dalam jangka menengah dan panjang. Downgrade tersebut menunjukkan bahwa surat utang yang dikeluarkan oleh AS saat ini sudah tidak lagi tanpa resiko. Sehingga bagi pemegang surat utang AS, resiko yang muncul tersebut akan dikompensasikan dengan coupon interest yang lebih tinggi yang artinya akan meningkatkan beban utang pemerintah AS. Hal ini tentu memberatkan pemerintah AS mengingat saat ini AS juga ditekan untuk mengurangi anggaran belanja pemerintah. Pada akhirnya, kondisi tersebut memberi gambaran mengenai prospek perekonomian Amerika Serikat yang benar-benar berada di ujung tanduk.

Tidak hanya AS, karena pada akhir semester I/2011 benua Eropa kembali dihantam isu akan potensi gagal bayar atas obligasi yang diterbitkan oleh Italia dan Spanyol sehingga memicu kekhawatiran besar di sektor keuangan eropa. Kondisi tersebut pada akhirnya memaksa Bank Sentral Eropa untuk membeli obligasi pemerintah Italia dan Spanyol tersebut sebagai upaya untuk menenangkan kekhawatiran pasar tentang krisis utang di zona euro. Munculnya potensi gagal bayar utang negara Eropa tersebut sebagai akibat dari terus naiknya rasio utang terhadap GDP negara-negara besar di Eropa seperti terlihat pada tabel dibawah.

Seperti diketahui bahwa pada awal agustus 2011, Risiko investasi untuk lima tahun kedepan di wilayah Eropa melesat ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut terlihat dari naiknya Credit default swap (CDS) Italia, Jerman dan Francis yang menyundul level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir. Untuk diketahui bahwa, CDS selalu digunakan investor sebagai pertimbangan dalam berinvestasi di suatu negara dimana semakin tinggi level CDS suatu negara, maka resiko gagal bayar negara tersebut akan semakin tinggi.

Kabar terakhir mengenai kondisi perekonomian Eropa dipaparkan oleh Presiden bank Sentral Eropa, Jean Claude Trichet, Trichet mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Eropa untuk beberapa waktu kedepan akan melambat sehingga diperlukan langkah-langkah likuiditas tambahan guna mendorong pertumbuhan ekonomi Eropa. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa untuk masa mendatang tidak akan ada perubahan suku bunga oleh bank sentral eropa.

Pengaruh krisis utang Amerika dan Eropa ke Indonesia

Tentunya krisis utang yang dialami Amerika dan Eropa dalam jangka pendek akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia baik itu ke sektor moneter maupun sektor riil. Pada sektor moneter dapat terlihat dari derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar saham dalam minggu pertama bulan agustus 2011 atau sejak isu utang Amerika merebak. Investor asing melihat bahwa dampak dari krisis utang Amerika dan Eropa akan membuat outlook perekonomian global turun. Keluarnya arus modal asing selama 6 hari berturut-turut pada akhirnya mendorong kejatuhan bursa saham Indonesia (IHSG) sebesar 10,6%. Perlu diketahui bahwa hingga akhir semester I/2011, investor asing menguasai 60% kapitalisasi modal di bursa saham Indonesia. Tidak hanya IHSG, karena rupiah pun tercatat melemah sebesar 150 Pips atau sebesar 1,74% dan ditutup pada level 8625.

 Namun demikian, volatilitas bursa saham dan mata uang tersebut dipercaya tidak akan berlangsung lama. Karena modal asing yang keluar tersebut hanya mencerminkan aksi profit taking investor asing, setelah sejak awal 2011 berduyun-duyun masuk ke bursa saham Indonesia. Bahkan dipercaya dalam beberapa bulan kedepan dana investor asing tersebut akan kembali masuk ke pasar saham Indonesia, mengingat kinerja emiten yang listing di bursa saham indonesia sangat memuaskan dimana pada periode semester I/2011 para emiten di bursa saham Indonesia rata-rata mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 20%.

Pada sektor rill, pengaruh krisis utang Amerika dan Eropa akan terlihat pada nilai ekspor Indonesia ke negara Eropa dan Amerika. Seperti diketahui bahwa sejauh ini, ekspor Indonesia ke Eropa sekitar 13% dari total ekspor Indonesia. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sekitar 11%. Sedangkan Ekspor Indonesia ke sesama negara Asia lebih dari 50%, sisanya ke Amerika latin dan Afrika. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini, Amerika Serikat masih merupakan salah satu negara andalan bagi ekspor Indonesia, selain Tiongkok dan Jepang.

Terkait krisis utang Amerika dan Eropa ini, ada kekhawatiran bahwa budget Amerika dan negara Eropa tersebut akan lebih banyak dihabiskan untuk membayar utang dan tidak digunakan untuk menstimulasi ekonomi domestik sehingga menimbulkan potensi penurunan impor barang dari negara-negara Asia termasuk Indonesia. Oleh karena itu para eksportir Indonesia dipercaya akan terkena imbas dari krisis berupa penurunan permintaan dari pasar Amerika dan Eropa tersebut. Namun demikian penurunan permintaan dari pasar Eropa dan Amerika dapat disiasati dengan menambah porsi ekspor ke negara berkembang, mengingat negara berkembang terbukti menunjukkan kinerja yang baik selama masa krisis.

Disamping akan adanya penurunan permintaan, pengaruh krisis AS dan Eropa tentunya akan terlihat pada harga barang komoditi, seperti minyak, CPO, dan batubara. Harga komoditas dunia dipercaya akan turun seiring dengan menurunnya outlook ekonomi global sehingga dalam hal ini dari segi nilai maka penjualan barang komoditas Indonesia akan turun. Hanya saja penurunan harga komoditas dunia tersebut dipercaya tidak akan mencapai level seperti ditahun 2008 lalu, mengingat sejauh ini permintaan akan barang komoditas dari negara-negara berkembang yang terhindar dari krisis justru meningkat, seiring dengan terus tumbuhnya ekonomi negara-negara berkembang tersebut.

Krisis Utang Amerika dan Eropa mendorong Capital Inflow ke Indonesia

Namun demikian krisis utang yang dialami Amerika dan Eropa dalam jangka menengah dan panjang justru memberikan peluang bagi Indonesia. Apa yang terjadi di AS dan Eropa tentunya akan membuat suku bunga mereka tetap rendah dalam satu atau dua tahun mendatang, kondisi tersebut menciptakan dana menganggur di pasar internasional yang tidak terserap oleh sektor riil di negara ber suku bunga rendah tersebut. Oleh karena itu, dana tersebut sangat berpotensi untuk dapat ditarik masuk ke negara berkembang. Pada kesempatan ini, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terbaik di dunia harus mampu memanfaatkan momentum krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.

 Realisasi Indikator Ekonomi Indonesia Sumber: Kompas (2011)

Potensi Indonesia untuk kebanjiran dana dari negara-negara maju yang mengalami pelambatan ekonomi sangatlah besar, mengingat dana tersebut akan mencari sumber tempat investasi baru dengan karakter memiliki suku bunga tinggi, mata uang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari AS dan Eropa. Dalam hal ini, ada dua negara yang memenuhi syarat tersebut yaitu Indonesia dan Brasil. Namun demikian, Brasil tidak menyukai hot money mengingat brazil menerapkan pajak 6% bagi investor yang mau membeli obligasi mereka. Alhasil dana bisa masuk ke Indonesia yang masih menganut rezim devisa bebas. Terlebih lagi Indonesia berpotensi untuk meningkatkan investasi dan angka pertumbuhan ekonominya, mengingat lembaga pemeringkat rating seperti The Fitch, Moody’s dan S&P dalam 6-12 bulan bersiap memberikan level peringkat investasi (investment grade) ke Indonesia.

PROGRES PENINGKATAN RATING INDONESIA Sumber: Bloomberg (2011)

Melihat potensi akan masuknya dana menganggur dari Amerika dan Eropa tersebut, Pemerintah harus mampu mendorong dana tersebut masuk ke sektor riil, tidak hanya ke sektor moneter seperti saham dan obligasi, karena dapat menciptakan resiko baru bagi Indonesia, terutama apabila dalam dua atau tiga tahun mendatang AS, Eropa dan Jepang mengalami fase pemulihan.

Pada akhirnya apabila Indonesia mampu memanfaatkan krisis hutang Amerika dan Eropa tersebut, maka optimesme pertumbuhan ekonomi 6,5% tahun 2011 dan 7% pada tahun 2012 adalah hal yang sangat obyektif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi identik dengan inflasi tinggi, namun demikian apabila pemerintah mampu mendorong capital inflow tersebut ke investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik dan dengan tidak adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) maka diprediksi capital inflow tersebut tidak akan menciptakan inflasi yang tinggi bagi Indonesia, dimana hingga akhir tahun 2011 potensi inflasi akan bertengger di angka wajar 5,5-6%. Oleh karena itu dengan stabilnya angka inflasi dan rendahnya suku bunga global hingga 2 tahun kedepan maka dipercaya BI akan tetap mempertahankan BI  rate 6,75% paling tidak sampai akhir tahun 2011.

Hanya saja pengaruh dari potensi diupgradenya rating Indonesia menjadi “Investment grade” sehingga mendorong derasnya capital inflow dimasa yang akan datang berpotensi untuk meningkatkan permintaan dalam jumlah besar terhadap rupiah sehingga diprediksi penguatan rupiah akan terus terjadi, rupiah paling tidak akan bertengger di Rp 8.300 pada akhir tahun 2011 dan Rp 7.900 pada 2012. Dalam hal ini para eksportir Indonesia akan terpukul apabila tidak mempersiapkan diri, untuk itu para eksportir Indonesia diharapkan mampu menyusun strategi pemasaran yang pas terkait dengan potensi penguatan rupiah tersebut. Seperti misalnya dengan mengganti mata uang perdagangan dengan mata uang stabil seperti yuan terutama untuk mengakomodasi perdagangan dengan China.

Categories: Published Articles
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: