Home > Published Articles > TANTANGAN INDONESIA SETELAH MEMPEROLEH INVESTMENT GRADE

TANTANGAN INDONESIA SETELAH MEMPEROLEH INVESTMENT GRADE

TANTANGAN INDONESIA SETELAH MEMPEROLEH INVESTMENT GRADE

Oleh: Muhammad Fikri, STP, MBA
Corporate Credit Analyst PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Email : m.vickry@gmail.com
Phone : +62 813 2804 3661
(Tulisan ini telah dipublikasikan di majalah Banking dan Manajemen 20112)
 

Pada setiap millenium Indonesia selalu menghasilkan karya besar yang merupakan icon dunia. Diawali pada millenium pertama dimana dinasti Syailendra membangun sebuah karya candi Budha terbesar di dunia dan menjadi ikon bagi umat Buddha, kemudian dimilenium kedua, putra-putri nusantara melaui kerajaan Majapahitnya mampu menjadi salah satu kekuatan dunia dengan kekuasaan yang terbentang dari Indonesia timur hingga semenanjung malaya. Selanjutnya bagaimana dengan milenium ketiga? Mampukah Indonesia menghasilkan sebuah karya besar yang diakui dunia?

Indonesia mempunyai potensi untuk menghasilkan sebuah karya besar dengan menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia, terlebih saat kekuatan ekonomi dunia sudah mulai bergeser dari Amerika dan Eropa ke Asia. Seperti diketahui pada tahun 2000, lima negara dengan perekonomian terbesar di dunia adalah USA, Jepang, Jerman, Prancis, dan Inggris. Komposisi tersebut berubah di tahun 2011 menjadi USA, China, Jepang, Jerman, dan Prancis. Disisi lain pada tahun 2050, penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun akan berjumlah dua kali lipat dari penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun. Artinya, struktur demografis penduduk dunia akan berubah menjadi piramida terbalik, hal ini berbahaya karena jumlah penduduk yang tak produktif lebih banyak dari jumlah penduduk produktif.

Lalu bagaimana dengan masa depan ekonomi Indonesia, Goldman Sachs dalam laporannya memprediksi bahwa pada tahun 2030, PDB dunia berkembang dari USD 62 Triliun saat ini menjadi USD 308 Triliun. Dari jumlah tersebut, 50-55% disumbangkan oleh Negara-negara Asia, dimana Cina, India, dan Indonesia menyumbangkan porsi besar dari situ.

 

Kondisi lain yang menjadi sisi menarik dan menjadi modal Indonesia adalah profil demografi Indonesia, dimana dengan pertambahan penduduk 1,2% per tahun seperti saat ini maka diprediksi Indonesia bisa mempertahankan profil demografi saat ini hingga tahun 2025. Perlu diketahui bahwa saat ini 60% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 39 tahun dan 50% dari penduduk Indonesia berusia kurang dari 29 tahun. Ini merupakan modal kuat sebagai  pendorong pertumbuhan ekonomi tentu dengan syarat penduduk produktif tersebut mendapat pendidikan dan fasilitas yang layak.

Investment Grade sebagai sebuah Peluang

Karya besar yang akan ditorehkan Indonesia diawal millennium ke tiga ini sepertinya akan ditorehkan melalui sektor ekonomi. seperti diketahui di akhir 2011, Indonesia kembali mendapat pengakuan Internasional setelah the fitch rating menaikan rating Indonesia menjadi Investment Grade setelah 14 tahun penantiannya. Penggunaan kata “investment grade” mengacu pada sebuah peringkat yang menunjukan utang pemerintah atau perusahaan yang memilki risiko yang relatif rendah dari peluang gagal bayar, sehingga memiliki tingkat kepercayaan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan resilien, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hati. Dengan diraihnya investment grade Indonesia boleh berbangga karena peringkat “BBB-“ adalah peringkat tertinggi di ASEAN bersama singapura, dan merupakan prestasi terbaik yang pernah dicapai oleh bangsa Indonesia.

Dampak langsung investment grade bagi Indonesia akan dirasakan saat menerbitkan surat utang, dimana Indonesia cukup memberikan imbal hasil/coupon rate yang lebih kecil sebagai kompensasi atas turunnya risiko default atas surat utang yang diterbitkan oleh Indonesia sehingga pada akhirnya mendorong biaya utang Indonesia akan menjadi lebih rendah. Dan perlu diketahui bahwa di negara maju seperti Amerika dan Jepang, dana jangka panjangnya dikelola oleh institusi dana pensiun. Namun, regulator di negara tersebut sulit mengizinkan dana pensiun berinvestasi di negara non investment grade. Dana hedge fund inilah yang diproyeksi akan memborong surat hutang yang diterbitkan oleh Indonesia. Dengan demikian, sifat capital inflow akan berubah dari yang awalnya jangka pendek dan spekulatif menjadi jangka panjang. Tentunya ini akan berdampak pada volatilitas rupiah yang jauh lebih bisa dikendalikan. Tidak hanya dirasakan oleh Negara, karena korporasi pun akan merasakan dampak investment grade tersebut dengan ikut naiknya rating utang korporasi-korporasi besar di Indonesia.

Seperti diketahui Lembaga pemeringkat internasional the Fitch Ratings juga telah menaikkan peringkat utang delapan bank di dalam negeri menyusul naiknya peringkat utang Indonesia. Selain itu, tiga perusahaan telekomunikasi dan tiga perusahaan migas juga ikut naik ‘pangkat’. Bank-bank yang ikut merasakan kenaikan grade adalah Bank Mandiri, Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Lembaga Pembiayaan Export-Import Indonesia, Bank OCBC NISP, Bank Internasional Indonesia, dan Bank CIMB Niaga. Tiga perusahaan migas yang ikut naik ratingnya, yaitu Pertamina, PLN  dan Perusahaan Gas Negara. Sementara tiga perusahaan telekomunikasi yang ikut naik pangkat adalah Telkom Indonesia, Indosat dan Telkomsel.

Investment Grade sebagai sebuah Tantangan

Pencapaian Investment grade Indonesia ini bukanlah akhir dari mimpi panjang Indonesia, karena setelah investment grade ini pemerintah masih mempunyai banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan  untuk membuktikan ke dunia bahwa Indonesia dalam 25 tahun kedepan pantas untuk masuk ke kategori Negara maju di dunia.

Menurut menteri perdagangan Republik Indonesia, Gita Wirjawan, Ada tiga hal yang harus Indonesia tingkatkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi sehingga bisa disejajarkan dengan Negara-negara maju di dunia.

Yang pertama adalah hard infrastructure. Seperti diketahui, menurut Goldman Sach target GDP Indonesia di tahun 2030 adalah sebesar USD 9 Triliun, sehingga apabila GDP nya diakumulasikan dari tahun 2011 sebesar USD 720 Miliar menjadi USD 9 Triliun ditahun 2030, kita memperoleh angka USD 60 Triliun. Secara teori, 5% dari GDP suatu Negara harus dibelanjakan ke sektor infrastruktur (saat ini belanja infrastruktur pemerintah hanya 3% dari GDP). Untuk mencapai GDP sebesar USD 9 Triliun di tahun 2030, pemerintah harus membangun infrastruktur jalan, pembangkit listrik dan pabrik baja senilai kurang lebih USD 3 Triliun dalam kurun waktu 20 tahun kedepan (5% dari USD 60 Triliun).

Perlu diketahui bahwa saat ini infrastruktur kita benar-benar tercekik, salah satunya karena pertumbuhan ekonomi kita yang pesat. Seperti diketahui di seluruh Indonesia terdapat jalan sepanjang 350.000 km sangat jauh bila dibandingkan dengan panjang jalan di China yang mencapai 4.5 juta km. Disisi lain, konsumsi besi kita baru 20kg/kapita/tahun, sementara untuk menjadi negara maju Indonesia harus mengkonsumsi besi sebesar 500kg/kapita/tahun. Sebagai contoh, Korea selatan, konsumsi besinya sudah mencapai 1200kg/kapita/tahun. Untuk mencapai konsumsi sebesar itu, Pemerintah perlu menambah kapasitas produksi besi nasional sebesar 120 juta ton. Pada akhirnya dengan asumsi bahwa Indonesia akan mampu mengkonsumsi baja sebesar 400kg/kapita/tahun maka konsekuensinya Indonesia perlu energi sebesar 565 kWh/kapita/tahun sehingga akan mendorong pemerintah untuk membangun pembangkit listrik sebesar 10.500GW.

Yang kedua, adalah soft infrastructure, yaitu pendidikan dan kesehatan. Ini jelas, berkaitan dengan angkatan muda produktif Indonesia yang besar. Dalam hal ini Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan akses pendidikan kepada seluruh putra-putri Indonesia. Perlu diketahui, saat ini Indonesia hanya memiliki kurang lebih 15.000 orang PhD, masih jauh dibawah China dan India yang masing-masing memiliki 500.000 orang PhD. Hingga saat ini, Indonesia baru bisa menambah jumlah PhD sebanyak 700/800 orang per tahun, artinya dengan laju sekarang selama 20 tahun ke depan indonesia baru bisa menambah sekitar 16.000 PhD. Angka ini masih jauh dari jumlah Phd yang seharusnya dimiliki Indonesia, dimana Indonesia membutuhkan 75.000-100.000 Phd agar mampu bersaing dengan China dan India dalam 25 tahun mendatang. Perlu diketahui bahwa dalam 25 tahun kedepan, diperkirakan total jumlah Phd di China akan melebihi Amerika Serikat. Untuk itu pemerintah perlu meningkatkan fasilitas kepada pelajar Indonesia sehingga memiliki akses untuk merasakan universitas-universitas terbaik Dunia mengingat saat ini hanya sedikit dari pelajar Indonesia yang mempunyai akses ke Universitas terbaik di Dunia. Sebagai contohnya salah satu sekolah favorit di Inggris, University of Cambridge. dari total jumlah pelajar asing yang menimba ilmu di univsersitas tersebut, sebanyak 700-an mahasiswa berasal dari Amerika Serikat, 600 mahasiswa berasal dari China, 400-500an mahasiswa berasal dari India, 250 mahasiswa berasal dari Singapura sedangkan dari Indonesia hanya 7 orang mahasiswa.

Yang ketiga adalah infrastruktur digital. Seperti diketahui, Penetrasi broadband Indonesia saat ini hanya 18%, masih jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan sesama negara-negara Asia Tenggara. 50% dari trafik internet di Indonesia sudah dilakukan melalui handphone. Disisi lain, penetrasi seluler Indonesia telah mencapai angka 80%. Oleh karena itu pemerintah perlu untuk mendorong penggunaan telepon seluler yang dimiliki oleh hampir setiap penduduk Indonesia untuk mengakses internet dengan meningkatkan penetrasi internet yang berkualitas dan murah. Pada akhirnya, tidak akan mengherankan apabila seseorang di Manokwari, Papua, bisa mengakses kurikulum kuliah di MIT atau Harvard melalui handphonenya. Sehingga nantinya bukan hal yang mustahil, pada tahun 2030 kedepan, Manusia jenius seperti Bill gates dan Steve Jobs berikutnya berasal dari Indonesia atau bahkan dari Papua.

Seperti kata Forlon B, jenius adalah kapasitas untuk menerima rasa sakit yang tak terbatas. Perlu diketahui bahwa Indonesia mendapatkan hasil yang diperoleh saat ini diawali dari keterpurukan di tahun 1998. Indonesia sudah menerima berbagai macam rasa sakit dan cobaan. Seperti pada tahun 1998 tersebut, dimana akibat krisis multi dimensi, Indonesia benar-benar terpuruk. Semua orang berkata, menulis, dan berpikir bahwa Indonesia akan mengalami balkanisasi. Tapi lihatlah sekarang, Kondisi fiskal Indonesia sangat baik.  Rasio hutang terhadap PDB <26% dan terus menurun bahkan ditargetkan dalam tiga tahun akan menjadi <20%. Kondisi moneter Indonesia juga punya kemampuan yang fantastis untuk mengendalikan inflasi, bahkan saat ini yang terbaik di Asia, disisi lain Indonesia juga punya modal demografi yang luar biasa. Para ekonom internasional bahkan mengatakan bahwa Indonesia dimata Investor saat ini bagai seorang gadis cantik yang dilirik oleh berbagai pasang mata.

Pada akhirnya muncul pertanyaan dibenak putra-putri indonesia kapankah Indonesia menjadi Negara maju? Tentu tidak bisa dalam waktu tiga bulan atau bahkan tiga tahun ke depan karena hal tersebut merupakan hasil dari sebuah transformasi multi dimensi yang membutuhkan waktu 20-30 tahun.  Dan yang perlu kita ingat bahwa perjalanan sejauh seribu mil selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Disinilah optimisme diperlukan, mengingat perjalanan yang akan dilalui Indonesia untuk menggapai mimpi menjadi salah satu ekonomi besar dunia bakal membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan.

Categories: Published Articles
  1. September 28, 2013 at 7:14 PM

    Semoga mimpi ini cepat tercapai. Agar tidar tidak ada lagi org indonesia yg malu mengaku sebagai org indonesia.

  1. March 14, 2014 at 12:27 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: